|
JUBI --- Operasi militer di Kabupaten Paniai, Papua, tahun 1969 dan berikut berturut-turut tahun 1982, tahun 1996 hingga 1998, masih membekas dalam ingatan kolektif warga setempat. Pengalaman kelam sama kembali terjadi dalam beberapa waktu terakhir, membuat warga trauma. Warga Paniai selalu ketakutan bila melihat aparat militer. Entah Tentara, Polisi, Brimob ataupun Anggota dari kesatuan lainnya.
“Kami takut lihat anggota militer itu, karena setiap hari mereka bawa senjata. Tanya-tanya kami, apakah kenal John Magai Yogi, ciri-cirinya apa, biasa ke sini kah tidak? Dan ada banyak pertanyaan lain, ini membuat kami takut sekali tinggal di kampung, jadi sekarang sudah satu bulan kami ada di Enarotali,” kata Beny Mote, Tokoh Masyarakat Kampung Dagouto, Distrik Paniai Timur, Kamis (22/12).
“Polisi, Brimob dan Tentara yang ada di Pos Pantau Dagouto, jalan dari rumah ke rumah. Mereka ambil kami punya barang, makanan. Sita parang, kampak dan anak panah. Ada beberapa rumah rusak, isi rumah dihampurkan sembarang,” ceritanya.
Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Paniai, John NR Gobai menilai tindakan represif aparat itu sangat meresahkan. Maka, wajar bila masyarakat merasa takut. “Lihat mereka saja takut. Ya, karena ada trauma masa lalu,” ujarnya.
“Dari sisi psikologis, orang Paniai memang pernah merasakan pengalaman yang sangat kejam. Dulu Paniai dijadikan basis operasi militer atau daerah operasi militer (DOM). Dan ketakutan warga akhir-akhir ini wajar, karena ada trauma di masa lalu. Kehadiran militer yang berlebihan, apalagi ada patroli lengkap dengan senjata dan penembakan, membangkitkan kembali trauma itu,” tutur John.
Karena ada pengalaman buruk di masa silam, warga selalu ketakutan bila melihat aparat keamanan. Apalagi sejak Minggu kedua November 2011, sekitar 140 pasukan Brimob dikirim ke Paniai. Menurut Polda Papua, pasukan Brimob itu ditugaskan untuk mendukung pasukan yang ada di Paniai.
“Kita maklumi kalau orang takut, mungkin karena pengalaman masa lalu ya. Tetapi yang jelas, aparat ditugaskan bukan untuk menakut-nakuti apalagi mau tembak dan lain-lain, itu tidak. Sama sekali tidak. Kita tetap profesional dalam menjalankan tugas,” tutur Kabag Ops Polres Paniai, AKP Antonius Paebesi baru-baru ini.
Kehadiran pasukan Brimob dari Kepala II Depok dan Kalimantan Timur, kata John, makin meresahkan warga Paniai lantaran aksi berlebihan dalam operasinya. Klaim target mengejar dua buah pucuk senjata yang dirampas anggota TPN OPM Devisi II Makodam Pemka IV Paniai, diawali tindakan teror, sweeping dan perampasan barang-barang milik masyarakat.
“Bahkan menembak Matias Tenouye, warga sipil di lokasi pendulangan emas Degeuwo. Korban itu oleh kepolisian katakan dia anggota TPN OPM. Ini tidak benar.”
Sebelum Selasa (13/12), pasukan gabungan menyerang Eduda, banyak kejadian tak terpuji yang dilakukan. Berdalih menumpas TPN OPM, warga sipil jadi sasaran. “Semua rentetan peristiwa di Paniai sudah kami laporkan ke Komnas HAM. Kapolri harus tarik kembali anggota Brimob dari Paniai sebelum hari Natal,” tandasnya.
Seperti dikisahkan Beny Mote dan warga kampung terdekat Eduda, situasi pasca kehadiran pasukan Brimob membangkitkan trauma masa lalu. Trauma akibat tindakan keji militer yang sangat menyayat hati warga Paniai.
“Lusa kita Natal, jadi harap situasi segera aman. Tapi kalau masih begini terus, tidak mungkin rayakan Natal bersama keluarga kami seperti biasanya,” tutur Otopia Gobai, warga Paniai Utara.
Sebagian warga Kebo dan sekitarnya, kata dia, sudah mengungsi. Warga dari Kampung Obaiyoweta, Dei, Dagouto, Uwamani, Badauwo, Tokoo, dan Bibida, juga mengungsi ke wilayah lain sejak 20 November 2011.
“Sekarang satu bulan kami ada di Enarotali, sudah tidak ingat rumah, kebun dan ternak,” akunya. Mengungsi ke Enarotali, Otopia dan keluarganya tinggal terpencar. Tidak satu rumah. “Mau Natalan dari kampung, tapi situasi yang kemarin itu bikin kami takut.”
Setelah mengadu ke Komnas HAM, John juga menyampaikan laporan situasi keamanan Paniai ke DPR RI. Kamis (15/12), bertemu dengan beberapa anggota dewan dari Fraksi PDI-P dan anggota DPR RI asal Tanah Papua di Gedung Parlemen Senayan.
“Intinya, kami laporkan ke beberapa pihak di Jakarta supaya ada sikap tegas untuk menarik pasukan dan menghentikan konflik di Paniai,” tandas John NR Gobai.
Sumber tabloidjubi.com menambahkan, warga juga merasa takut karena hingga kini ada pos pasukan di beberapa tempat. Antara lain di Dimiya Distrik Yatamo, di Obano Distrik Paniai Barat, di Kebo Distrik Paniai Utara, di Madi dan Dagouto Distrik Paniai Timur.
Situasi tegang warga sipil yang berdomisili di sepanjang lereng Wegeuto seakan membuka kembali “memoria passionis” perang tahun 1982 dan aksi represif pasca ABRI Masuk Desa (AMD) tahun 1989-1993 di Kampung Badauwo, kampung terdekat Eduda, waktu itu.
Kini, pengalaman sama menimpa warga Paniai di Kampung Obaiyoweta, Dei, Dagouto, Uwamani, Badauwo, Tokoo, dan Bibida. Mereka mengungsi ke wilayah lain sejak 20 November 2011. Masih belum kembali ke kampung halaman, karena masih takut. Apalagi, bunyi senjata masih terdengar pada malam hari. Alhasil, dalam tempo dua hari kedepan ini mereka tak mungkin segera kembali ke rumah untuk merayakan hari Natal. (Jubi/MY)
|