West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.0.91-log
Time : 10:17
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 10
Content : 829
Content View Hits : 896800
OPM Bisa Balas Dendam PDF Print E-mail
Written by Bintang Papua   
Wednesday, 21 December 2011 19:57

Warga  Sekitar Menjadi Ketakutan

Paniai—Pasca aksi penyerangan dan pendudukan markas OPM di Gunung Eduda Paniai Papua, 17 Oktober lalu, oleh aparat Kepolisian, situasi Paniai sudah kondusif, aktivitas warga sudah berjalan dengan baik. Namun warga diselimuti  keresahan, kelompok bersenjata TPN/OPM akan berekasi melakukan serangan balas dendam.

Markas OPM di Gunung Eduda Paniai Papua pasca direbut aparat Kepolisian, dimana dalam aksi itu OPM mengklaim delapan anggotanya tewas.

Markas OPM di Gunung Eduda Paniai Papua pasca direbut aparat Kepolisian, dimana dalam aksi itu OPM mengklaim delapan anggotanya tewas.

‘’Saat ini warga ketakutan kemungkinan adanya reaksi TPN/OPM, mereka bisa melakukan balas dendam dan warga menjadi sasarannya. Untuk itu, kami berharap aparat keamanan tetap siaga menjaga warga,’’ujar Pater Oktovianus Pekey tokoh Agama Paniai.
Lanjut dia, seteleh markas mereka diduduki, kelompok separatis OPM pimpinan John Magay Yogi (anak Tadius Yogi) yang sudah sejak tahun 1982 bermarkas di Eduda tidak diketahui lagi dimana rimbanya. ‘’Kalau mereka pindah markas ke tempat yang jauh, kemungkinan kontak senjata dengan aparat sangat kecil, tapi kalau mereka anggap markas yang diduduki saat ini dapurnya, mereka akan tetap berjuang merebutnya kembali, inilah yang ditakuti warga, karena ujung-ujungnya akan terjadi pertumpahan darah, ’’paparnya. Pater Oktovianus juga mengakui, kelompok TPN/OPM yang bermarkas di Eduda kerap meresahkan warga kampung terutama di sekitar lokasi markasnya, dengan cara memeras, meminta denda dan merampas hasil kebun dan ternak warga. ‘’Warga takut sama OPM, karena hasil bumi mereka selalu dirampas, jika kami dari gereja menanyakan , kenapa menyusahkan warga kampung, mereka tidak bisa menjawab dan itulah yang terjadi bertahun-tahun,’ ’ujarnya.
Ia juga mengakui, warga lebih takut kepada OPM daripada aparat keamanan. ‘’Selama ini warga dalam kondisi dilema, kalau terlihat dengan aparat keamanan yang kebetulan patroli, OPM akan marah dan mengancam atau meminta denda hasil kebun atau ternak juga uang jutaan rupiah, kalau tidak dipenuhi mereka tidak segan-segan membunuh,’’ungkapnya.
Pasca markas OPM diduduki, sambungnya, warga tidak lagi ketakutan hasil buminya dirampas. ‘’Memang awalnya warga trauma, mereka akan menjadi sasaran saat kontak senjata antara aparat keamanan dan OPM, tapi ternyata itu tidak terjadi, malah sekarang warga tidak takut lagi hasil kebun maupun ternaknya diganggu,’’ucapnya. Ditanya apakah ada warga sipil yang menjdai korban saat aparat Kepolisian melakukan penyerangan dan pendudukan markas OPM, Pater Oktovianus mengatakan, hingga saat ini pihaknya tidak mendapat laporan mengenai warga yang menjadi korban. ‘’Warga sipil tidak ada yang jadi korban, awalnya memang saya kaget membaca berita, ada 14 anggota OPM tewas dan 70 rumah dibakar, setelah dicek, tidak ada rumah warga yang dibakar, dan 14 orang OPM tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya,,’’tandasnya.
Tokoh masyarakat Paniai  Johanes Yogi juga mengatakan,, bahwa kelompok OPM yang bermarkas di Eduda kerap mengancam, memeras, dan merampas hasil kebun maupun ternak warga. ‘’Kalau mereka melintas kampong warga, ada saja yang diminta, kalau tidak minta denda uang, ya merampas ternak,’’ tukasnya. Bukan hanya itu, kalau ada warga yang diketahui bersama aparat keamanan, kelompok OPM akan memberikan sangsi berupa denda. ‘’Mereka akan bilang, kamu kerjasama dengan RI ya, jadi kamu didenda kalau tidak bayar dengan uang ya ternak,’’ ujarnya.
Tapi, Johanes berharap dengan didudukinya markas OPM Eduda,  aparat keamanan lebih meningkatkan kewaspadaan, karena mereka bisa saja melakukan aksi balas dendam. ‘’Kalau mereka balas dendam, warga lagi yang akan jadi korban, jadi aparat harus meningkatkan kesiagaannya,’’kata dia.
Sementara itu Kasatgas Brimob Polda Kaltim Kombes LB Lubis yang memimpin operasi  Matoa mengatakan, pasca pendudukan maskas OPM divisi II Eduda dan Dagouto pimpinan John Magai Yogi dan Salmon Yogi, situasi Enarotali ibukota Paniai berangsur pulih dan kondusif. Aktivitas warga sudah berjalan seperti biasanya.  ‘’ Memang bila di bandingkan ketika kami melakukan penyerangan dan pendudukan di 3(Tiga) titik yang di kuasai OPM yaitu Gunung Eduda, Gunung Dagouto dan Distrik Kamopa,banyak masyarakat yang mengungsi karena takut dengan aparat, tapi tindakan kami Profesional yakni melindungi warga bukan untuk menyakiti ataupun membunuh. Dan terbukti tidak ada warga sipil yang jadi korban, Kami hanya mengejar kelompok separatis yang kerap  meresahkan masyarakat Kabupaten Paniai,’’tegasnya.
Proses penyerangan dan pendudukan markas OPM berhasil, kata dia, berkas adanya dukungan helicopter dari Mabes Polri. ‘’Kalau tidak ada heli untuk maneuver, mungkin kami kesulitan untuk masuk markas mereka, sebab berada diatas lereng dan akses kesana melintasi sungai, rawa dan perbukitan yang curam. Sementara anggota OPM selalu melakukan pemantauan dari semua sudut lereng,’’ ujarnya. Mengenai korban dari pihak OPM yang diperkirakan sebanyak 14 orang dan 8 kampung dibakar, Lubis mengatakan, itu sama sekali tidak benar. ‘’Silahkan wartawan cari dimana buktinya dengan menanyakan warga,  itu hanya issu,’’ singkatnya.
Jarak antara gunung Eduda dengan Kota Enarotali hanya 6 Kilometer, dari pantauan langsung di markas OPM yang telah diduduki, Selasa 20 Desember  banyaknya  ditemukan selongsong peluru yang berhamburan, rumah yang dijadikan istana pimpinan OPM, pakaian dan dapur tempat memasak.  Bahkan, juga ditemukan parabola guna mengakses internet. Mereka juga punya website Edudanews.com. Aktivitas warga juga terlihat lancar dan baik.
Kapolres Paniai AKBP Jannus Parlidungan Siregar mengatakan, jumlah anggota OPM yang bermarkas di Eduda sebanyakan 800 orang. “Mereka berada di tiga titik, di Eduda sebanyak 500 orang, sisanya di Dagouto dan Kamopa. Senjatanya diperkirakan sekitar 50 pucuk yang terdiri dari  AK47, Moser bahkan En For sebanyak 6 pucuk,’’teranganya. Tegas Kapolres, pihaknya akan terus mengejar pimpinan OPM John Magai Yogi dan Salmon Yogi, karena mereka bertanggung jawab atas serangkaian tindak criminal yang meresahakan. “Target kami, kedua pimpinan OPM itu harus ditangkap, karena mereka harus mempertanggungjawabkan smua perbuatan yang meresahkan warga, antara lain perampasan senjata Polisi, pembakaran dua jembatan, serta perampasan sejumlah ternakwarga,’’tandasnya.
Kapolres juga mengatakan, segala tindakan pihaknya terhada penyerangan dan pendudukan markas OPM itu, sudah sesuai dengan prosedur yang diatur undang-undang. ‘’ Segala tahapan sudah dilewati, himbauan, melakukan tatap muka serta melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk meghimbau kelompok OPM menghentikan segala aksinya,  namun tetap  buntu dan kelompok seperatis  tetap bersikeras melakukan aksi-aksi mereka yang meresahkan masyarakat,’’paparnya.
Sementara situasi pasca pendudukan markas OPM sudah kondusif, aktivitas masyarakat berjalan dengan baik dan lancer. ‘’Situasi Paniai sudah aman tidak ada lagi gangguan, kami juga menghimbau masyarakat untuk tidak percaya isu-isu yang beredar. Juga bekerjasama dengan pihak tokoh agama untuk terus memberikan siraman rohani, menghimbau agar jangan takut kepada aparat serta bersama-sama  menjaga kamtibmas di Pania,”ucapnya.(jir/don/l03)

 

 
Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us