West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.0.91-log
Time : 01:04
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 8
Content : 777
Content View Hits : 712558
OIIO (OPM International Information Office): Statement PDF Print E-mail
Written by J. H. Prai OIIO Malmö - Sweden   
Saturday, 20 March 2010 19:19
PEACE DIALOGUE - PERUNDINGAN DAMAI BETWEEN - DIANTARA P A P U A - I N D O N E S I A

TINJAUAN OIIO (OPM INTERNATIONAL INFORMATION OFFICE)  BASED IN MALMÖ CITY, SWEDEN (EUROPE).

Dalam posisi dan tanggungjawab saya sebagai ”Prime Mover OIIO,”

Menurut hemat saya situasi tambah genting bagi rakyat Papua Barat, karena pihak rezim Jakarta giat sekali agar rakyat Papua Barat tidak merdeka dan bebas untuk menentukan hari depannya sendiri. Dengan berbagai cara mereka berusaha agar bisa seperti apa yang mereka kehendaki, yaitu mereka lakukan seperti dengan Aceh, berdialog.

Dialog ini telah lama saya dengar, antara lain waktu ada konferensi di London, saya dengar dari orang-orang Papua yang langsung datang dari tanah Papua. Dalam pembicaraan terpisah yang sepintas lalu diluar sidang. Sayang sekali saya sendiri tidak hadir kesana. Saya tidak hadir kesana karena ada satu dan lain hal sehingga saya tidak hadir dan hanya mendengar dari bisikan-bisikan mulut teman-teman Papua lain.

Dengan dipakai perantara Henry Dunant Institute di Switzerland untuk berdialong, seolah-olah digambarkan tidak berpihak, karena terkait pada pendiri Palang Merah International, jadi yang mereka mau ialah tidak ada korban berdarah.

Adalah bagus dan indah-permai kalau demikian, tetapi mereka tidak menitik beratkan pada hak rakyat Papua Barat, yaitu hak atas tanah Papua, hak bebas dan merdeka dan hak menentukan nasib dan hari depan sen diri. Princip hak ini tidak menjadi sorotan mereka.

Jadi dengan lain kata, sikap ini bisa diartikan juga berpihak pada politik pemerintah Indonesia agar Papua tetap dalam pangkuan dan pelukan ibu Pertiwi. Procesnya untuk Aceh juga demikian. Diadakan apa yang disebut dialog-dialog, konferensi. Beberapa orang dipengaruhi untuk memajukan di alog sebagai solusi. Jadi jelas maksud dari dialog Papua ini seperti apa yang saya katakan sebelumnya ialah tetap dalam rankuan negara Kesatu an RI.

Langkah ini dilakukan dengan jalan mendekati orang-orang Papua, satu per satu, yang dianggap terkemuka dan berpengaruh di kalangan masyarakat Pa pua Barat. Satu per satu mereka rangkul, saya kira paitua Youwe diundang ke Indonesia itu dalam rangkah mempercepat realisasi tersebut, tetapi rupanya paitua Youwe tidak tertarik. Saya tidak tahu apa yang mereka katakan atau janjikan kepada paitua Youwe. Tetapi, kalau yang saya dengar misalnya terha dap orang Aceh, jauh sebelum perjanjian Helsinki, ialah kepada orang-orang tertentu dijanjikan untuk diberikan posisi tinggi dalam masyarakat, misalnya gubernur dan banyak fasilitas lainnya. Dan memang mereka yang ikut dalam perjanjian Helsinki mendapat faselitas tersebut.

Cara yang sama mereka pakai juga untuk bangsa Papua. Saya kira orang-orang Papua tertentu didalam negeri maupun yang ada diluarnegeri sudah ada yang di dekati dengan diberikan berbagai macam-macam janji demikian dan mungkin ju ga faselitas. Jadi dialog bersih bagi kepentingan rakyat Papua Barat memang ti dak ada. Tetapi, dialog yang dilakukan ini maksudnya mirip musyawarah tahun 19 60an, bahwa msyarakat Papua menyatakan tetap setia kepada Saka Merah Putih dan ibu Pertiwi. Sekarang ini taktik perjuangan lama itu dirubah dengan mema kai istilah ”dialog” dan kemujian perjanjian dengan disaksikan oleh masyarakat dunia International (mereka mengulangi lagi taktik perjuangan tipu-muslihat yang lama dimasa PEPERA (Act of NO Choice 1969) di Papua Barat dan untuk kedua kalinya ini dengan memakai istilah “dialog” (perundingan ) jadi, tidak ada sesuatu persoalan baru yang menarik hati dan menguntungkan posisi perju angan seluruh rakyat Papua Barat.

Alasan permainan politik/diplomasi kotor seperti diungkapkan dibab pendahulu- an tadi justru karena; tanah/bumi Papua Barat sangat penting buat Indonesia dan teman-temannya sehingga mereka dengan segala akal dan jalan akan mem- pertahankan, jadi seperti apa yang dikatakan ”by hook or crook we must keep it.” Saya kira teman-teman orang-orang Papua Barat yang ada di DN dan di LN, harus berkumpul dan menjauhkan diri dari perselisihan peribadi, Aku-Isme, Suku-Isme, Daerah-Isme, Golongan-Isme, Kebesaran Kemuliaan Namaku-Isme, Kehebatanku-Isme dll permasalahannya yang lama, tak usah takut atau malu untuk membicarakan hal dialog seluas-seluas dan semua mengambil satu kepu tusannya saja; yaitu kita percayakan masyarakat dunia international melaksana kan ”referendum” (Act of Re-Free Choice) atau penentuan nasib diri sendiri serta merebut kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa/Negara Republik Papua Ba- rat ke dalam kekuasaan tangan kita sendiri. Jadi jangan berpisah-pisah dan sen diri. Karena berbisah-pisah dan sendiri-sendiri itulah yang sangat digemari/di- gemarkan Jakarta/Indonesia. Silahkan pikirkan dan ambil langkah positif bagi keluputan bangsa, negara, dan tanah tumpah darah Papua Barat.

Perlu pula diperhatikan dengan bersungguh-sungguh hati/pikiran, jiwa, dan akalb- udi; bahwa di tanah Papua Barat ada diadakan politik otonomi paksaan dan pe mekaran daerah, terakhir ini dibuat provinsi pegunungan. Otonomisasi dan peme karan daerah atau pembentukan provinsi dengan alasan memudahkan administrasi pembangunan daerah, adalah tidak lain untuk terciptanya perpisahan dikalangan masyarakat Papua Barat dengan diciptakan raja-raja kecil (yes men) untuk men jaga agar kelancaran jalan upeti ke Jakarta harus sebagaimana mustinya.

Pada dasarnya dialog atau perundingan didasarkan atas kekuatan bukan atas dasar belas kasihan. Pihak kuat mendiktei kondisi, kalau tidak ada kekuatan, lantas bagai mana,? Sebuah contoh apa yang dikatakan oleh Joe Slovo, salah seorang petinggi ANC terhadap perundingan (dialog damai) dengan rezim apartheid Afrika Selatan: anatara lain beliau katakan: ”kita berunding untuk perdamian tetapi senjata tetap ada dibelakang.” Jadi tidak berunding dengan kelemahan (pengalaman pahit sejarah sejarah perjuangan rakyat-rakyat tertindas di bumi ini telah membuktikan hal ter sebut, yaitu perundingan/dialog damai harus dibacking up oleh kekuatan; kekuatan apa? Boleh berpikir sendiri). Nah rezim Jakarta mengerti hal ini, sehingga mereka segera mengeliminasi Kelly Kwallik OPM Regional Commandor Darah Timika/Fak- fak sekalipun kekuatan tidak seberapa. Saya peribadi telah menolak dengan keras tidak turut didalam perundingan damai dengan Indonesia dengan alasan karena sa ya tidak boleh pergi berdusta diriku dan menyangkal diatas darah-darah suci/kudus yang telah tertumpah dan mengalir diatas perut ibu Pertiwi Papua Barat, yaitu ke matian Mr. Kelly Kwalik, rakyat pulau Biak yang diantar dengan sebuah kapal la ut lalu tembak mati semuanya hanyut dan busuk didalam lautan Pacific dan serta 100 000 jiwa-jiwa rakyat Papua Barat yang tidak bersalah di dalam tanah tumpah darahnya sendiri yang harus dipertanggungjawabkan oleh pemerintah kolonial RI kepada seluruh rakyat Papua Barat.

Pertanyaan timbul tentang perundingan damai (peace dialogue) ialah; (1) Pihak mana atau kelompok mana yang menganjurkan soal dialog damai ini? (2) Dial- og damai tentang soal apa/barang apa? (3) Mau berunding apa dan petik apa dari tangan Indonesia? (4) Tidak tahukah mereka-mereka dengan otak-otak ker dil yang menganjurkan soal dialog ini? (5) Sedangkan; persoalan Papua Barat kini telah berada secara official di dalam tangan masyarakat dunia International? Tiga badan kekuatan politik/diplomasi: (1) The International Parliament for West Papua (IPWP) ada berbasis di London-England/UK, (2) Internationational Lawyers for West Papua (ILWP) kini ada berbasis di Goyana-Latin Ame rika, (3) Nyonya Melinda Janki ILWP telah secara resmi meluncurkan issue kemerdekaan dan kedaulatan rakyat Papua Barat di EU Parliament pada tgl. 26 febr. 2010. Apakah mereka-mereka yang menganjurkan dialog damai ini disang ka ketiga bodies (badan) perjuangan politik/diplomasi dunia internasional ini han ya merupakan soal permainan lucu-lucu/jenaka dari anak-anak kecil? Bukan, mala han pemerintah kolonial RI tambah panik dan menjadi gila sehingga SBY kini jalan berkampanye serta memaksa dan membujuk-bujuk hati rakyat Papua Barat; mengulangi lagi jejak permainan perjuangan politik kotor yang lama sejak im- plementasi pelaksanaan Act of NO Choice 1969 di Papua Barat. Oleh ka rena itu, mengapa kalian semua di DNPB tinggal membungkam diri dan tidak balik muka kepada masyarakat dunia international serta meminta dan menuntut dengan keras kedua hal ini; yaitu Referendum/Act of Re-Free Choice yang di backing up oleh ketiga badan dunia international tersebut, atau, meminta menye rahkan kemerdekaan bangsa Papua Barat secara langsung atau lewat UN/PBB ketangan rakyat Papua Barat sendiri? (5) Kenapa kamu takut? Takut kepada siapa? Kamu ada menduduki dan menguasai atas tanah tumpah darahmu sen- diri? Indonesia adalah kaum pendatang; kamu hanya boleh minta secara damai sejahtera dan dengan hormat dan hikmat yang tinggi supaya mereka keluar dan kembali ke tanahairnya sendiri dan menjadi kita bangsa Papua punya ”POWERFUL BIG BROTHER” di Southeast Asia dan South Pacific Region; kalau Indonesia terima tawaran ini adalah baik dan akan sangat menguntungkan kedua be lah pihak diwaktu-waktu yang sedang mendatang itu.

Jika seandainya; orang-orang PB dengan otak-otak kerdilnya yang menganjur kan permohonan dialog damai ini; sesungguhnya, mereka bimbang atau tidak mengerti baik tentang alasan atau dasar kekuatan hukum alamnya yang masih berla ku secara aktual/topik bagi semua penduduk dunia/bumi ini termasuk ju ga keberadaan (existing) kita sebagai bangsa Melanesia asli di Papua Barat yang sama nilai tetapi tidak mempunyai ikatan apapun dengan suku bangsa Indonesia penduduk asli Benua Asia Tenggara. Oleh karena itu, kita tidak per lu pergi berlutut menyembah sujud dibawah kaki kaum pendatang Indonesia dan membuat ”peace dialogue” (perundingan damai) dan menyerakan segala hak mutlak kita kepada mereka, TIDAK, sekali-kali tidak; dengan asasan utama karena kita tidak mempunyai sesuatu ”interese” (kepentingan-kepentingan) apapun di dalam negeri Indonesia dll tempat didunia/bumi ini, nol (kosong).

Malahan adalah sebaliknya; pemerintah kolonial RI-lah yang harus berlutut dan menyembah sujud dibawah kaki seluruh rakyat MPB dan memohon maaf yang sedalam-dalamnya kepada rakyat Melanesia di PB atas segala perbuatan-perbuatan kejahatannya yang keji dan cemar yang mereka lakuk- an entah itu dengan sengaja/tidaksengaja selama 48 tahun ”illegal ockup asi” mereka di bumi Melanesia-Papua Barat; dengan alasan mereka juga ada mempunyai ”interesenya” (kepentingannya) yang besar di bumi Papua Barat; jika tidak; interese/kepentingannya yang ada di Papua Barat akan di musnahkan/dihancurkan secara total oleh seluruh rakyat Melanesia. Jadi, persoalan mahavital inilah yang harus dikerjakan sekarang ini juga oleh pemerintah colonial RI bersama rakyat PB, jika tidak, hanya memikul ke kalahan untuk selama-lamanya.

Kepada orang-orang PB yang lain yang telah bersedia diri untuk berdialog damai dengan pemerintah kolonial RI boleh silahkan pergi tetapi dengan catatan; masalah dialog damai ini, kalau keliru maka kehidupan sisa seluruh rakyat Papua Barat akan tambah lebih parah lagi. Jadi segera usahakan per temuan intern ini, dengar pendapat dan saran dari semua pihak bagaimana masalah dialog damai di hadapi sebaik-baiknya demi untuk keamanan dan keselamatan rakyat Papua Barat dan hari depan tanah Papua Barat. Kesudut ini ada sedikit politikal augjumentasinya; yaitu sesuai dengan berbagai-bagi informasi yang tidak lewat sumber-sumber resmi tetapi sebagian bisa diper cayai mengatakan: bahwa Organisasi Kwalisi Pembebasan Nasional Papua Ba rat (OKPNPB) yang diasuh/dibina oleh John Otto Ondawame cs telah mem punya kerjasama yang erat dengan BIN (Badan Intellijens Indonesia) dan di biayai oleh BIN lewat lembaga/institusi-institusi asing/LN; sehingga mereka bergerak secara leluasa sambil menjalankan propaganda-propaganda palsu , pi cah.-belah, aduk-domba dan mengacaukan rakyat-rakyat di DNPB, mereka ki ni ada atur langkah-langkah untuk berdialog damai dengan Indonesia. Kantor OPM LN (Europah) cermat mengikuti perkembangan ini dengan penuh keher anan. Dengan kesempatan ini peringatkan kepada seluruh rakyat Papua Barat, supaya selalu berhati-hati dengan orang-orang OKPNPB yang bermuka dom ba, tetapi hati, hati serigala buas (kaki-tangan RI). Ingat kepada sebuah cont oh konkrit ini: ”TUHAN Yesus Kristus ditangkap diperkosa dan dibunuh oleh Bangsa Jehudi/Israel sendiri; demikian juga rencana jahat OKPNPB?”

Malmö; March 13, 2010

J. H. Prai OIIO Malmö - Sweden
 
Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us