West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux m
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.5.59-0+deb7u1-log
Time : 02:48
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 12249
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 3898326
PEMERINTAH TIDAK PEDULI MEMBIAYAI PENGOBATAN TAHANAN POLITIK FILEP KARMA DAN FERDINAND PAKAGE PDF Print E-mail
Written by Peneas Lokbere   
Wednesday, 10 March 2010 11:55
“SUMBANGAN SUKARELA RAKYAT UNTUK KEMANUSIAAN


Filep Karma  merupakan tokoh Politik dalam menyampaikan aspirasi rakyat Papua untuk memperjuangkan nilai-nilai hak dasar rakyat Papua.  Ditahun 1998 awal masa reformasi di Indonesia, Filep Karma mengkonsolidasikan aksi damai dengan “Mengibarkan Bendera Bintang Kejora” sebagai bentuk protes terhadap pemerintah RI atas berbagai kekerasan militer dan menanyakan kembali proses politik baik PEPERA tahun 1969 dan berbagai perjanjian internasional (New York  dan Roma Agrement) menyangkut penyelesaian secara damai Status Politik Papua sebagai Negara Yang Berdaulat.


Aksi yang berlangsung selama 6 hari ( 1  s/d  6 Juli 1998) di menara Air Pelabuhan Biak, di bubarkan dengan brutal oleh operasi gabungan “ FAJAR” dengan menenbak, menangkap bahkan mengilangkan nyawa secara paksa dan kilat. Peristiwa ini dikenal dengan “NAMA TANPA PUSARA, PUSARA TANPA NAMA”.  Peristiwa ini di kategorikan  sebagai Pelanggaran HAM Berat, namun sampai saat ini prosesnnya  tidak jelas.


Dari peristiwa itu memotivasi semangat perlawanan di seluruh wilayah Papua, sehingga lahir konsolidasi gerakan rakyat maka memunculkan Forum Rekonsiliasi Rakyat Irian (FORERI) yang kemudian bersama kekuatan rakyat Papua membuat  Kongres Rakyat Papua II sehingga memunculkan Presidium Dewan Papua (PDP).


Dari semangat perlawan rakyat tersebut Pemerintah dengan terpaksa memberikan “OTONOMI KHUSUS”  sebagai jalan tengah meredam Aspirasi “ MERDEKA”. Sampai saat ini, OTSUS cuma di rasakan oleh ELIT-ELIT di Birokrasi yang tidak menghargai darah dan air mata yang di teteskan di Atas Tanah Papua.


Filep Karma Di vonis 5 Tahun penjara Oleh Rezim Pemerintah dan mendekap di Penjara ABEPURA-Jayapura. Namun semngat perlawannya semakin kuat sehingga pada tanggal 1 Desember 2004 bersama dengan kekuatan gerakan mahasiswa melakukan aksi damai di lapangan Trikora Abepura dengan menaikan Bendera Bintang KEJORA sebagai bentuk protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat Militeristik yang tidak ada niat untuk menyelesaikan persoalan politik papua secara menyeluruh.


Dari Peristiwa tersebut filep karma di tuduh melakukan Makar dan di tuduh bersalah sehingga di hukum selama 15 tahun di dalam penjara Abepura. Sudah 5 tahun proses hukuman sudah dilalui, namun karena penjara di Abepura yang tidak memikirkan pelayanan kesehatan yang baik bagi para tahanan sehingga pada tanggal 18 Agustus 2009 Filep Karma di bawa ke RSUD DOK  II jayapura untuk mendapatkan pengobatan Lebih Lanjut Karena ada pengkristalan/ penyumbatan di ginjal baik kiri maupun kanan. Namun karena pelaratan operasi yang tidak lengkap di RSUD DOK II maka harus di rujuk ke RS CIKINI Jakarta.  


Sampai saat ini proses pengobatan belum berjalan karena LAPAS ABEPURA/KAKANWIL HUKUM DAN HAM  tidak mampu / tidak peduli untuk memberikan pengobatan sehingga diberikan bebankan ke Keluarga. Hal ini membuktikan Negara tidak bertanggung jawab dan melakukan proses pembiaran. Sungguh Kejam Pemerintah ini, sehingga sangat tidak manusiawi dan tidak ada niat baik untuk melakukan tindakan yang cepat.
Hal tersebut juga di  alami oleh tahan Politik  Peristiwa 16 Maret 2006 Ferdinand Pakage ( DI HUKUM 15 TAHUN ), yang di pukul oleh sipir penjara ( Herbert Toam) pada tanggal 22 September 2008 dengan tangan yang ada kunci gembok sehingga menusuk mata bagian kanan yang mengakibatkan pendarahan. Namun di biarkan sampai keesokan harinya sehingga dokter menyatakan mata kanannya sudah cacat ( tidak berfungsi). Namun sampai saat ini proses hukumnya  tidak jelas, Menurut kalapas Abepura Antonius Aryobaba bahwa Herbert sudah di pecat namun sampai saat ini masih bekerja. Sungguh Keji dan tidak manusia perlakukan Biadab yang di lakukan di dalam penjara.


Peristiwa 16 maret 2006 adalah gerakan pemuda, mahasiswa dan rakyat yang tergabung di dalam Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua ( Front Pepera) dengan tuntutan dalam aksi adalah “Penutupan PT. FREEPORT dan segera lakukan Referendum di tanah Papua. Aksi tersebut berimbas bentrok sehingga korban dari pihak aparat keamanan dan para pemuda, mahasiswa.


Dari kronologis  peristiwa tersebut, maka Kami yang tergabung dalam SOLIDARITAS KORBAN PELANGGARAN HAM PAPUA,  melakukan aksi ‘Penggalangan Dana, untuk dapat membantu pengobatan Tahanan Politik Filep Karma dan Ferdinand Pakage. Rakyat harus bersatu untuk menjunjung tinggi nilai-nilai HAK ASASI MANUSIA.


SUMBANGAN SAYA, KITA, KAMU, MEREKA DAN SIAPA SAJA ADALAH WUJUD NYATA PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN SEBAGAI MANUSIA PAPUA YANG UTUH DI DALAM MEMPERJUANGANKAN KEADILAN DAN KEDAMAIAAN DI MUKA BUMI.
Bagi yang bemurah hati, hubungi Peneas Lokbere di 08524440336

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 11:55
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us