West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.1.67-log
Time : 15:57
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 20
Content : 959
Content View Hits : 1408750
Laporan Kronolo​gi Peristiwa Pembunu​han Kilat Mako Tabun​i, 14 Juni 2012​ PDF Print E-mail
Written by fwpc   
Wednesday, 11 July 2012 10:04

KRONOLOGI  PERISTIWA

MAKO TABUNI (34) DITEMBAK MATI OLEH POLISI REPUBLIK INDONESIA  MELALUI SATUAN DENSUS 88 ANTI TERROR PADA 14 JUNI 2012, PUKUL 09.30 AM DI PERUMNAS III WAENA, KOTA JAYAPURA, PROVINSI PAPUA

 

  1. I. PENDAHULUAN

Mako Tabuni ditembak mati karena perannya yang gigi dan konsisten memperjuangkan terselenggaranya “Referendum Bagi Bangsa Papua Barat”, telah berhasil mempengaruhi seluruh komponen bangsa Papua Barat untuk bersatu menyuarakan suara keadilan, kebenaran, martabat manusia. Aktifitasnya selama ini korban (MT) sebagai Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sampai korban terbunuh.

  1. II. SITUASI SEBELUM PERISTIWA

1.DEMO KNPB 1 MEI 2012  

Demonstrasi  damai yang dipimpin  oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pada hari Rabu 1 Mei 2012 di Taman Imbi dalam rangka mengguggat /menolak hari Integrasi Papua kedalam Pangkuan  NKRI berakhir dengan penembakan /pembunuhan misterius  terhadap Alm. Terjolih Weya pada pukul 7.30 malam di depan Kampus Uncen Lama.

 

Terbunuhnya Alm. Terjolih Weya  adalah salah satu anggota KNPB yang ditembak oleh orang tak dikenal (OTK) ketika menggunakan truk kuning di jalan Jayapura-Sentani di depan Uncen Lama, ketika pulang demonstrasi bersama teman-temannya merupakan peristiwa langkah atau ancaman paling berat yang telah dirasakan oleh KNPB secara organisasi.

 

Sejak incident ini, KNPB sudah mulai mendapat ancaman yang sangat berat dari pihak Kepolisian dan juga dari pihak Kesbangpol. Berbagai pernyataan dilayangkan dimedia cetak seperti (Cepos, Bintang Papua) dengan bentuk ancaman bahwa pihak kepolisian tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada organisasi KNPB untuk melakukan demontrasi karena organisasi ini belum didaftar di Kesbangpol dan dianggap organisasi illegal.

 

Sehingga KNPB menilai bahwa penembakan Alm. Terjolih Weya pada tanggal 1 Mei 2012 ketika pulang demonstrasi bersama massa aksi lainnya diatas truk kuning di depan kampus Uncen Lama adalah awal dari serangkaian peristiwa yang mencekam selama ini.

 

Atas peristiwa penembakan terhadap alm. Terjolih Weya yang merupakan peristiwa misterius itu, Alm. Mako Tabuni pernah melaporkan peristiwa tersebut kepada  pihak Polda untuk melakukan uji laboratorium terhadap proyektil yang menembus nyawa Alm. Terjolih.  Dan akhirnya pada tanggal 15 Mei 2012 pihak Polda Papua menggumumkan hasil uji laboratorium di Makasar bahwa peluru yang yang menembus/menghilangkan tubuh Alm. Terjolih Weya adalah caliber 22. Kaliber 22 adalah bukan milik TNI/Polisi Indonesia menurut Polda Papua melalui media cetak ( Bintang Papua 15/5/2012)

 

Akhirnya KNPB tidak berhasil mendapatkan jawaban  yang transparan  oleh pihak Polda yang telah melakukan uji Laboratorium di Makasar. Ketika itu pihak Polda menuding pihak OTK adalah pelaku penembakan terhadap Alm. Terjolih Weya.

  1. 2. DEMO KNPB SENIN 4 JUNI 2012 

Setelah peristiwa penembakan terhadap Alm Terjolih Weya, berlanjut dengan berbagai peristiwa yang mencekam di seluruh kota Jayapura dan sekitarnya. Dalam situasi ini KNPB secara terang-terangan membantah tuduhan-tuduhan yang dilimpahkan kepada KNPB sebagai semua actor penembakan di Jayapura melalui demonstrasi.

 

Pada hari senin, 4/6/2012 adalah  Demonstrasi damai yang hendak direncanakan oleh KNPB untuk menyatakan kepada public dan kepada pihak kepolisian bahwa segera menggungkap pelaku pembunuhan terhadap warga Jerman Mr Pieter Helmut (55) dan berbagai kasus lainnya, namun KNPB telah mendapat serangan dari pihak polisi di Kampung Harapan. Ketika pihak polisi membubarkan massa secara paksa 2 anggota KNPB ditembak mati dan 2 lainnya mengalami luka parah oleh pihak gabungan brimob dan polisi. Dua nama yang telah meninggal akibat tembakan oleh polisi adalah Alm. Imanuel Yaplo (23) dan Alm. Yesa Mirin (21).

 

  1. 3. KNPB DI UNDANG DPRP 

KNPB diundang oleh DPRP untuk menghadiri pertemuan di kantor DPRP. Untuk memenuhi undangan itu tanggal 7 Juni 2012, KNPB secara organisasi mengutus Ketua Umum KNPB Buktar Tabuni bersama dua (2) anggota yakni Asa Alua dan Jufry Wandikmbo.

3.1.        Pada tanggal yang sama, pukul 15.30 di lingkaran Abe  terjadi penangkapan terhadap ketua Umum KNPB Buktar Tabuni dan kedua anggotanya sehabis pulang pertemuan di kantor DPRP, akhirnya Buktar Tabuni dan Jufry Wandikmbo ditahan di rumah tahanan Polda Papua  sedangkan Assa Alua dipulangkan karena menurut pihak kepolisian tidak menemukan barang bukti dari tangan Asa Alua ketika pemeriksaan.

3.2.        8 Juni 2012 Mako Tabuni dan beberapa anggota dan simpatisan KNPB mendatangi DPRP menuntut DPRP bertanggungjawab atas pengakapan Ketua Umum KNPB Buktar Tabuni dan meminta Polda membebaskan Buktar Tabuni tanpa syarat karena tidak ada bukti yang menyatakan Buktar bersalah dalam berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Meminta DPRP segera membuat Perda darurat sipil di Papua dan DPRP diberi waktu 3 hari. Mengancam DPRP jika mereka tidak membuat perda maka KNPB akan mencari anggota DPRP dari rumah ke rumah.

3.3.        13 Juni 2012 sekitar pukul 11.00AM Mako Tabuni melakukan Jumpa Pers di Prima Garden Abepura.

 

 

  1. 4. KESAKSIAN ALM. MAKO TABUNI KEPADA FANNY KOGOYA 

4.1.        Kasus 1 Mei 2012. Alm. Mako Tabuni (35) telah melewati banyak sekali bidikan penembakan dari sejumlah kesatuan seperti (Densus 88, Kopasus, Tentara, Brimob dan intel Polda).  Alm. Mako Tabuni pernah bersaksi kepada saya (Fanny Kogoya) pada tanggal 1 Mei 2012 pukul 9.00 malam di rumah sakit Dian Harapan ketika menemani Alm. Terjolih Weya saat melakukan otopsi mayat korban OTK.

 

Alm. Mako Tabuni katakan bahwa peristiwa penembakan yang dilakukan kepada Alm Terjolih Weya adalah peluru nyasar karena Alm. Terjolih memiliki ciri-ciri badan dan gaya berpakaian yang sama dengan alm. Mako Tabuni. Penembakan terhadap Alm. Terjolih Weya itu sebenarnya salah sasaran. Pihak tentara/kopasus sudah merancang untuk tembak saya (Mako Tabuni) tetapi karena saya (Mako Tabuni) menggunakan motor akhirnya yang menjadi korban adalah Alm. Terjolih yang saat itu naik truk kuning pulang ke Asrama sehabis Demo di Taman Imbi Jayapura.

 

4.2.        Kisah Nyata Selasa Fanny Kogoya Bersama Alm.Mako Tabuni pada 5 Juni 2012 Pukul 1.00-3.00 WIT. Hari selasa malam (sekitar pukul 1.00-3.00 WIT), Mako Tabuni dan Danny Wenda datang bertamu ke kontrakan saya (Fanny Kogoya) karena ingin minum kopi. Setelah tiba dirumah kontrakan saya, kami bertiga (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) bersantai sambil minum kopi yang sudah disiapkan oleh adik-adik saya di rumah kontrakan saya saat itu. Mako Tabuni dan Danny Wenda tidak mau makan nasi, tetapi mereka dua (Mako Tabuni dan Danny Wenda) hanya ingin minum kopi dan sambil makan pinang kesukaan Mako Tabuni. Setelah 1 jam bersantai dan diskusi dirumah saya selanjutnya   Mako Tabuni dan Danny Wenda mengajak saya  ke depan jalan perumnas 3 untuk pantau situasi yang sedang diwacanakan bahwa saat-saat ini banyak   mobil-mobil Avanza berkeliaran   mencari penembak misterius/OTK.

 

Kami (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) berjalan kaki dari kontrakan saya  ke pangkalan oyek Perumnas III yang berada disebelah kali Camp Wolker kurang lebih 1500 Meter. Kami bertiga kesana dengan maksud melakukan pemantauan situasi disepanjang jalan perumnas 3 yang saat itu sedang dikembangkan atau diissukan oleh mahasiswa bahwa saat-saat ini banyak sekali mobil-mobil Avanza/Inova berkeliaran malam mencari penembak misterius.

 

Seketika kami bertiga (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) hendak melangkah sekitar 1 meter dari rumah kontrakan saya,  hujan rintik/gerimis menyambut kami disepanjang jalan menuju putaran/pangkalan ojek perumnas 3. Sesampai di perumnas 3/pangkalan ojek kami ( Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) berteduh bersama 2  mahasiswa Papua  yang sedang ojek malam, dan kedua mahasiswa itu sedang menanti para pengguna ojek.

 

Tidak lama hujan  semakin deras.  Kami pun tidak bisa berjalan melangkah kemana-mana. Saya (Fanny Kogoya) segera ke ATM mandiri yang jaraknya tidak jauh dari pangkalan ojek perumnas 3 mengambil uang sebanyak Rp 200.000 untuk serahkan /berikan kepada kawan Mako Tabuni dan Danny Wenda untuk belanja kebutuhan (makanan, gula, kopi, rokok dll).

 

Setelah kembali dari ATM mandiri, saya (Fanny Kogoya) serahkan uang kepada kawan Mako Tabuni sedangkan Danny Wenda duduk sambil main gitar kecil (jukulele), sedangkan 2 mahasiswa yang sedang ojek berdiri  bersama 1  mahasiswa   berdiri berdampingan  dengan  Mako Tabuni sambil berbincang-bincang kondisi yang sangat mencekam ketika itu.

 

Sementara berbincang Mako Tabuni serahkan Rp 50.000,- kepada salah satu mahasiswa yang sedang ojek untuk meminta bantuan  membelikan rokok di salah satu kios 24 jam di dekat somel perumnas 3. Kurang lebih 10 menit mahasiswa yang belanja rokok itu segera kembali dan katakan bahwa kios yang biasanya 24 jam tersebut sudah tidak buka/tutup lagi jadi kaka dorang tunggu disini, saya ke asrama Rusunawa (Asrama mahasiswa Uncen) karena disana pasti bisa mengetok pintu untuk belanja rokok malam ini.

 

Akhirnya Mako Tabuni, Danny Wenda, Fanny Kogoya dan satu   mahasiswa yang sedang ojek serta 1 mahasiswa lagi  bersama-sama berdiri karena hujan semakin lebat/deras.

 

Ketika kami semua sedang berdiri tiba-tiba satu mobil Inova putih  lewat depan kami menuju ke arah utara /Uncen baru, tetapi mobil tersebut segera balik dari depan rumahnya kaka perempuan Mako Tabuni (tempat alm Mako Tabuni ditembak) yang tidak terlalu jauh dari tempat kami sedang berdiri. Saat mobil inova putih tersebut balik dari arah utara ke selatan, kami (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya ) mengganggap biasa saja/mobil itu tidak ada hubungan dengan kami.

 

Tidak lama setelah mobil itu berputar arah/kembali ke arah perumnas 2, kami terus memantau situasi itu, tidak lama satu mobil avanza hitam parkir di depan Kantor Pos Polisi Perumnas 3. Di dalam mobil tersebut banyak orang mendengar music dengan lagu-lagu Wamena ciri-ciri bahasa/lagu-lagu bahasa Lani.

 

Kurang-lebih setelah 5 menit dari pemandangan kami terhadap mobil Avanza hitam tersebut, tiba-tiba muncul 1 mobil hitam beroda turbo bersusun sebanyak 9 mobil berjalan di depan kami. 9 mobil semunya menuju kearah asrama Uncen/Rusunawa/Camp Wolker. Akhirnya sekitar jam 2.00 subuh Mako Tabuni bergegas mengangkat Hp dari sakunya dan telpon Buktar Tabuni dan Jhon Matuan yang saat itu sedang berada di asrama mahasiswa Uncen Rusunawa. Mako Tabuni mengatakan lewat telpon bahwa Buktar Tabuni dan adik-adik segera keluar dari asrama karena ada 9 mobil yang sedang menuju kearah asrama Uncen Rusunawa.

 

Sementara itupun, salah satu mahasiswa yang belanja rokok di Asrama Rusunawa itupun belum tiba ditempat kami berdiri/pangkalan ojek.

 

Dalam pikiran kami 9 mobil tersebut sedang menuju/akan mengrebek asrama Rusunawa tahu-tahunya mereka (9) mobil kembali menuju kearah tempat kami sedang berdiri. Mobil-mobil itu ternyata sedang memburuh/membidik kawan Mako Tabuni malam itu.

 

Kami berdiri terus pantau mobil itu, ternyata ke 9 mobil semakin mendekat dengan jarak kami sedang berdiri. Mobil pertama dari 9 barisan mobil tersebut sudah tiba dekat jembatan depan gereja advent Hari Ke 7 perumnas 3.

 

Mako Tabuni katakan bahwa mobil-mobil ini pasti pantau kami (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) jadi mari kita bergeser di belakang. Akhirnya kami bertiga (Mako Tabuni, Danny Wenda dan Fanny Kogoya) bersama 1  mahasiswa dan 1 mahasiswa lain yang sedang ojek itu semuanya segera masuk ke salah satu gang di perumnas 3 dalam. Kami semuanya berusaha menghilang/melarikan diri dari kejaran 9 mobil tersebut. Gang pertama dari perumnas 3 dalam itu, kami (Danny Wenda , Fanny Kogoya dan 1 mahasiswa) berusaha mengajak /menyuruh Mako Tabuni untuk segera naik ojek bersama 1 mahasiswa yang sedang ojek itu supaya lari kearah belakang perumnas 3 dalam dan akhirnya Mako Tabuni berhasil lolos dari pengejaran malam itu.

 

Sedangkan kami (Danny, Fanny Kogoya dan 1 mahasiwa) hendak melarikan diri kearah Uncen baru /dibelakang kampus Teknik. Kami telah ada dibelakang kampus Uncen fakultas Teknik kurang lebih 30 menit pantau mobil-mobil yang sudah berusaha mengejar kami disepanjang jalan perumnas 3, gang-gang perumnas 3 dalam dan juga sepanjang halte Uncen Baru dan sekitarnya.

 

Setelah 30 menit kemudian, DW, FK dan satu adik mahasiswa itu, berjalan turun dari belakang asrama   mahasiwa Uncen. Kami bertiga berjalan perlahan sambil pantau situasi ditempat itu dan sekaligus pantau banyaknya mobil yang malam itu menguasai daerah perumnas 3. Sesampai di halte Uncen baru, DW segera telpon MT dengan menggunakan HP yang dimilik oleh FK dengan maksud bertanya dimana posisi MT saat ini, karena ketika MT dilarikan oleh salah satu mahasiswa yang menggunakan ojek kurang-lebih 1 jam yang lalu, kami DW, FK dan 1 adik mahasiswa tidak tahu /tidak mengetahui posisinya lagi. Setelah DW menelpon MT dan sudah tahu posisinya, DW katakan melalui telpon MT bisa tunggu DW, karena saat ini DW mau antar FK dulu ke kontrakan FK disebelah kali Camp Wolker. Akhirnya DW katakan kepada satu adik mahasiswa itu bahwa adik bisa ke asrama Rusunawa karena kami akan ke sebelah kali/kontrakan FK.

 

Waktu saat itu kira-kira sudah pukul 3.00 subuh.   DW dan saya (FK) tiba di kontrakan FK.  Dan selanjutnya DW segera ganti baju dari rumah kontrakan FK. Setelah itu DW mengambil motor yang awalnya digunakan oleh MT dan DW saat itu.  DW segera pergi menggunakan motor untuk menjemput MT yang tidak tahu posisi terkahir saat itu.

 

Keterangan                              :  

MT : Mako Tabuni : Ketua I Komite Nasional Papua Barat 

DW : Danny Wenda: Sekretaris I Komite Nasional Papua Barat  

FK : Fanny Kogoya : Sttering Committee  KNPB 

4.3.        Hari Jumaat, 8/6/2012, Pukul 7.30, Mako Tabuni datang ke tempat tinggal saya (Fanny Kogoya) dan katakan bahwa saat ini saya (Mako Tabuni) sudah lolos dari banyak sekali bidikan penembakan pihak musuh. Dan kawan Fanny Kogoya harus tahu bahwa setelah penangkapan Buktar Tabuni (Ketua Umum KNPB) pasti saya (Mako Tabuni) akan menjadi target penembakan atau penculikan oleh pihak musuh. Mako Tabuni lanjutkan pertanyaan bahwa apakah kawan Fanny sudah baca Bintang Papua tanggal 8/6/2012? Saya (Mako Tabuni) menjadi buruan Polda Papua dengan tuduhan aktor semua penembakan misterius diakhir-akhir ini di Papua.

 

 

 

  1. 5. JUMPA PERS

 

5.1.        Beberapa jumpa pers dari tanggal 7-12 Juni 2012 dilakukan dalam rangka seruan penghentian dan mendorong pihak kepolisian mengungkap aktor dari pelaku OTK, diantaranya PGGB, SKUBP, Senat Mahasiswa Uncen,Paguyuban Nusantara, dll.

5.2.        Tanggal 12 Juni 2012 Elsham Papua melakukan jumpa pers di Kantor Elsham Papua, terkait aksi OTK yang meresahkan warga Kota Jayapura dan Papua pada umumnya dan menorong Polda mengungkap aktor dibalik semua kasus Petrus oleh OTK.

5.3.        Tanggal 13 Juni 2012 pada pukul 10.30 WIT Tim Kerja Gereja di Papua melakukan Jumpa Pers di Kantor Sinode Kingmi Papua menuntut intervensi kemanusiaan oleh PBB di Papua.

  1. III. PERISTIWA: HASIL INVESTIGASI

  1. 1. Kronologis Versi (A)

 

Pada tanggal 14 Juni 2012, sekitar Jam 09.00 saya turun ke Lingkaran Perumnas III Waena. Saya membawah motor milik teman saya yang saya pake selama sehari. Pagi itu saya kembalikan motor disekitar Lingkaran Perumnas III Waena. Karena orang yang saya tunggu belum datang, sehingga saya putuskan untuk sementara bergabung dengan korban (MT), kemudian motor yang saya bawa saya titip pada teman saya yang lain diseberang jalan pas putran mobil angkutan umum. Waktu saya jalan untuk berjumpa dengan korban (MT) saya bertemu lagi dengan teman yang lain tidak jauh dari posisi korban (MT) berada. Saya mengajak teman saya ini pergi bersama-sama menemani korban (MT).

 

Saat itu korban (MT) duduk berdekatan dengan seorang Ibu yang berjualan pinang, dan sempat membeli pinang dan makan pinang, saat kami berjumpa dengan korban (MT) dia sementara membuang ampas pinang dari mulutnya. Setelah itu dengan korban (MT) kami berjabat-tangan dan sedikit basa-basi. Teman saya membeli pisang goreng yang dijual orang Jawa tidak jauh dari tempat kami duduk. Saya diajak makan pisang yang dibeli oleh teman saya, tetapi saya menolak dengan alasan saya sudah makan di rumah. Jadi yang makan pisang hanya teman saya dan korban (MT).

 

Sementara itu saya bertanya kenapa kakak turun sendiri, dia bilang tidak apa-apa. Jadi sementara kami bicara-bicara ada mobil yang datang dari arah Perumnas II, kondisi mobil  semuanya gelap mulai dari kaca mobilnya, plat nomornya, kaca koplen dari mobil yang berukuran panjang itu (belakangan diketahui mobil itu Daihatzu no.polisi DS 141). Mobil itu oleh penumpang dari dalam membuang kardus-kardus bekas di dekat toko-toko (ruko dibagian kiri jalan perumnas III Waena) dan berjalan perlahan mulai star yang berhadapan dengan ATM mandiri menuju ke arah korban (MT) berada dan berhenti tidak jauh dari keberadaan kami, kira-kira 5 meter jauhnya.

 

Korban (MT) bilang kepada saya, adik kamu coba pantau mobil itu, berapa orang di dalam mobil itu, itu mobil kopasus yang selama ini mengincar saya. Saya memang dikejar mereka sejak dua hari yang lalu. Mereka kejar saya tetapi saya lolos terus dari kejaran mereka (kapasus). Pertama mereka mengejar saya, saya menghilang dari mereka melarikan diri ke pegunungan perumnas III Waena, lalu lewat Kampus Uncen Baru saya turun ke Asrama. Kedua mereka langsung ke Asrama tetapi saat itu banyak mahasiswa jadi mereka takut dan pulang. Ini yang kali ketiga mobil yang sama saya lihat datang saat saya disini.

 

Setelah saya pantau ternyata dalam mobil itu ada dua orang luar Papua. Lalu saya lapor kepada kakak (MT), dalam mobil itu ada dua orang non Papua. Saya tanya lagi kakak HP dimana? HP saya tidak bawah saya taru di Asrama, saya aktifkan HP di Asrama, supaya intel kalau pantau nomor HP saya setidaknya mereka tahu posisi terakhir saya di Asrama. Hanya, saya heran kenapa mobil itu ada disini? Mobil itu yang kejar saya, sejak dua hari yang lalu dan sekarang ada disini. Kamu pantau mobil itu! Nanti kalau terjadi apa-apa dengan saya, kamu lari dan jangan aktifkan HP supaya mereka tidak kejar kamu dua.

 

Tiba – tiba sementara kami fokus ke depan memperhatikan mobil Daihatzu, ternyata ada mobil Inova Siliver DS 1481 datang dari belakang kami, dari arah Uncen baru Perumnas III Waena. Dari mobil Inova itu, pertama turun dua orang dengan berpakian preman berwarna abu-abu, lengan pendek , celana pendek, memakai sendal, satu orang Papua mengenakan topi hitam, satu lagi orang non Papua datang menyapa kami, saat itu mereka membawah pistol. Ciri-ciri badan mereka, berbadan seperti orang-orang bodyquard.

 

Mereka menyapa kami dengan sopan, pertama mereka salaman dengan saya, kedua teman saya dan ketiga korban (MT). Korban (MT) sudah makan Pisang goreng dua buah dan masih ada satu ditangan sementara  siap-siap untuk makan. Saat itu, mereka (polisi) langsung memberitahu korban (MT) bahwa mereka (polisi) diperintahkan Kapolda tangkap dia (maksudnya Korban MT). Korban (MT) tanya kepada mereka (Polisi) “Mana surat perintah penangkapan? Tunjukan kepada saya surat perintah penangkapan dari kapolda, selama tiga kali, tetapi mereka (polisi) menjawab kami langsung diperintahkan untuk menangkap anda tanpa surat perintah penangkapan. Saya juga tidak bisa ikut kalian karena kami masih menunggu seruan kami kepada DPRP untuk membuat perda darurat sipil.

 

Suasana menjadi tegang, sementara itu dua orang turun dari mobil Inova Silver mendekati kami dan bergabung dengan dua kawan mereka (polisi). Dua orang itu non Papua, satu orang memegang senjata larz panjang, orangnya berbandan tegap dan tinggi, satu lagi memegang pistol. Ciri-ciri dan pakaian yang mereka kenakan semuanya hampir sama seperti dua polisi lainnya yang lebih dulu mendekati kami bersama korban (MT) saat itu.

 

Karena korban (MT) tetap pada pendiriannya maka ke empat polisi itu langsung memenggang tanggan korban (MT)  menarik korban, (MT) bertujuan untuk memasukkan korban dengan paksa ke dalam mobil Daihatzu DS 141, tetapi korban menarik tangannya dari genggaman mereka (polisi), lalu melarikan diri, dan mereka mencoba menangkap korban (MT) tetapi ia menghelat dan menyebrang jalan ke arah pangkalan Oyek, seorang tukang oyek yang mengenakan helm pada mukanya juga mencoba menahan dia tetapi korban (MT) masih lolos lalu korban (MT) selanjutnya menuju ke jembatan kecil berdekatan dengan perumahan Uncen Perumnas III Waena.

 

Saya sudah gugup, dan saya tidak tahu harus berbuat apa, tetapi saya tahu korban (MT) sudah melarikan diri ke arah perumahan Dosen, sehingga saya jalan lagi ke tempat di mana saya menitipkan motor, saat itu saya mendengar bunyi tembakan, saya menoleh ke arah bunyi tembakan tetapi angkutan umum (jurusan perumnas III) memalangi pemandangan saya saat kejadian penembakan itu sehingga saya tidak melihatnya. Karena situasi sudah panik mobil, ojek-ojek, masyarakat sedang melarikan diri, toko-toko, warung-warung memilih tutup, saya juga turut melarikan diri. Saya tidak tahu lagi teman saya lari kemana, saya juga lari pergi dari lingkaran perumnas III, karena masyarakat Papua yang marah dengan aksi penembakan itu melakukan pembakaran semua yang ada disekitar lingkaran perumnas III Waena. Jadi saya melihat bahwa amuk masa itu dilakukan oleh seluruh rakyat Papua yang melihat penembakan itu, jadi bukan orang dari pegunungan Papua seperti dari Wamena, Puncak Jaya, Yahukimo, atau KNPB sekalipun, tetapi solidaritas rakyat Papua.

 

  1. 2. Kronologi Versi saksi (B)

Kamis, (14/6/12).Sekitar pukul 09.30. pagi hari, saya keluar dari rumah untuk beli pisang goreng. Saat saya datang, saya bertemu dengan teman saya, teman ini ajak saya untuk bergabung dengan  korban (MT), sebelum bergabung dengan korban, saya beli pisang goreng setelahnya kami pergi bergabung dengan korban (MT) . Di tempat itu ada seorang ibu orang asli Papua yang menjual Pinang. Korban (MT) membeli pinang dari ibu itu dan membagikan kepada saya dan teman yang lain. Kami juga makan bersama pisang goreng yang saya beli. Saya bertanya kepada korban (MT). Mengapa datang sendiri dan tidak ditemani dengan teman-teman yang lain? korban (MT) menjawab: Tidak apa-apa.

 

Tiba-tiba ada satu mobil Avanza warna abu-abu (nomor DS-nya tidak kami perhatikan baik karena mobil itu diparkir sedikit miring) mobil itu datang dari arah Perumnas II Waena dan berhenti sebelah kiri jalan di sekitar lingkaran perumnas III Waena, berhadapan dengan ATM Mandiri. Korban (MT) mengatakan kepada kami bahwa “kamu perhatikan mobil itu (DS 904) , sepertinya Mobil Avanza itu milik Kopassus. Korban (MT) berkata: Saya akan mengalihkan perhatian mereka. Jika terjadi apa-apa dengan saya, kamu boleh lari tetapi kamu jangan aktifkan HP sebab ada alat-alat pendekteksi keberadaan orang yang mereka sedang bawa saat ini. Mereka bisa ikuti kita. Sementara kami perhatikan mobil itu, ternyata ada satu mobil Avanza lain kaca gelap riben parkir tidak jauh dari tempat kami. Kira-kira 10 meter tepatnya di jembatan kecil berhadapan dengan perumahan Dosen UNCEN Jayapura, Perumnas III Waena.

 

Ada empat orang dari Mobil Avanza itu datang menghampiri kami dan mengelilingi kami. Empat orang Polisi itu 3 orang pendatang, satu orang asli Papua. Berpakaian celana tali pendek batas lutut, mengenakan pakian kaos berwarna, lengan pendek, 3 di antaranya membawa pistol dan satu anggota membawa senjata laraz panjang. Salah satu dari mereka (Polisi) bertanya kepada korban (MT). Apakah Bapak Mako Tabuni? korban (MT) menjawab “ya” saya sendiri. Polisi: Kami diperintahkan dari Kapolda Papua  membawa bapak dikantornya.

 

Korban (MT) menjawab: mana surat perintah penangkapan? Dia bertanya selama tiga kali, dan juga korban menjawab:”saya bisa, tetapi kami masih menunggu jawaban dari DPRP atas tuntutan kami” jadi mohon maaf saya tidak bisa ikut. Waktu itu polisi menangkap korban (MT). Tapi dia berhasil lolos dari tangan polisi. Polisi berusaha menangkapnya tetapi ia menghelat  dan melarikan diri ke arah jembatan dan ingin lompat disekitar perumahan dosen tetapi tidak bisa. Korban (MT) kemudian menyebrang jalan bertujuan kabur dan menghilang di Kali Kamp Wolker.

 

Saat korban (MT) menyeberang jalan itu dari arah perumahan dosen ke arah kali Kamp Wolker, Polisi melepaskan tembakan mengenai paha sebelah kiri 2 kali, sebelah kanan 1 kali. Korban (MT) tersungkur jatuh. Namun Korban (MT) masih bergerak saat itu, tetapi tembakan ke empat mengenai lambung kanan korban (MT) langsung tenang. Keempat polisi itu kemudian mengangkat jenazah korban (MT) dinaikan ke Mobil Daihatzu hitam yang sudah diparkir. Korban (MT) di bawa menuju kearah Abe, (belakangan saya ketahui kalau korban (MT) di bawah ke Rumah Sakit POLRI Bhayangkara di Kotaraja.

 

  1. 3. Kronologi Versi Saksi C

Pukul 10.00 AM

Philips Kogoya (21), pada tanggal 14 Juni 2011 sekitar pukul 10.00AM, saya dari rumah ke Apotik Bayangkara, tujuan saya ke RS Bayangkara untuk membeli obat. Saat saya tiba ada orang Rambut Lurus yang kondisinya sudah meninggal karena ditikam dan dibacok hal itu terlihat dari sejumlah luka-luka pada badannya, leher, kepala, paha dan tanggan korban. Motif pembunuhan yang membuat korban seperti itu, saya belum ketahui. Korban di bawah oleh keluarga korban dengan mobil carry jurusan kotaraja ke Rumah Sakit Bayangkara. Saya diminta oleh petugas RS Bayangkara untuk membantu keluarga korban membawah korban ke Unit Gawat Darurat (UGD). Dokter di UGD memeriksa kondisi korban, ternyata korban sudah meninggal dunia dan dokter minta supaya keluarga korban membawah korban pulang.

 

Setalah itu, saya bergegas keluar halaman RS Bayangkara dari UGD untuk pergi membeli obat. Secara tidak sengaja saya ketemu dua polisi dengan berpakaian lengkap menutup kepala mereka dengan cadar, bayu kaus oblong menutup tangan dan kaus tangan, dengan persenyataan lengkap dan body mereka seperti bodyguard menggotong Korban (MT) dan menaruh tangan kiri-kanan dipundak polisi serta membawah korban ke UGD.

 

Ketika korban (MT) di bawah polisi, pintu pagar RS Bayangkara langsung ditutup diperintahkan agar petugas langsung menutup pintu pagar, orang-orang yang datang dan pergi ke RS Bayangkara untuk beraktifitas langsung membubarkan diri ketika polisi membawah korban (MT). Semua petugas dan siapapun diminta matikan HP dan dilarang foto.

 

Saat itu korban masih hidup, bisa berjalan tetapi pincang karena dipaha kiri kanan terkena tembakan dari arah belakang sehingga terlihat dengan jelas darah berlumuran pada celana yang dikenakan korban (MT) dan juga korban terkena peluruh dibagian bahu/dipunggung belangkang sehingga darah membasahi baju belakang yang dikenakan korban (MT).

 

Saat itu polisi membawah korban (MT) ke UGD dan mendudukannya pada kursi roda. Saya mengikuti sampai ke UGD. Ketika pilisi menggotong korban (MT) turun dari mobil di halaman RS Bayangkara korban (MT) sudah melihat saya. Waktu di ruang UGD saya berdiri dibelakang korban (MT), dua polisi berdiri disamping kiri dan kanan. Korban (MT) menyapa saya: “ Aiii adik komandan tolong ambilkan saya air minum” saya ke kios depan Rumah Sakit Bayangkara, sambil berjalan saya menoleh ke belakang, waktu saya melihatnya korban memberikan “senyum” saya bergegas cepat membeli aqua 600ml dan secepatnya saya membawah kepada korban. Saya membuka penutupnya dan memberikan kepada korban (MT) minum air yang saya berikan. Setelah itu yang saya saksikan bahwa polisi tidak berniat dan tidak ada tindakan penyelamatan nyawa korban (MT). Karena dokter dan mantri/suster RS Bayangkara saat itu ada pasca penanganan korban yang saya ceritakan di atas tetapi polisi tidak memanggil mereka untuk menyelamatkan nyawa korban. Hanya polisi yang penuhi RS Bayangkara tanpa melakukan sesuatu. Waktu korban melihat wajahnya tidak berlumuran darah kecuali di bahu dan paha yang saya lihat sangat bermuluran darah.

 

Kondisi korban saat itu masih hidup, ada rasa sakit dari tembakan polisi dalam tubuhnya tetapi saya melihat tidak ada rasa sakit, rasa kecewa terhadap apapun yang dialami korban (MT).

 

 

Pukul 11.00 AM

Sementara itu saya juga sudah tidak berdaya harus berbuat apa, pikiran saya juga kacau bercampur gugup dan takut. Dalam kondisi saya seperti itu, saya mendengar satu hal dari salah satu polisi yang mengatakan bahwa korban masih hidup jadi harus di bawah ke Polda Papua, setelah itu mereka menggotong korban keluar UGD, naikan ke mobil, dalam mobil itu ada dua orang lagi dan dua orang dapat menggotong korban (MT) naik mobil, mereka membawah korban keluar dan pergi ke Polda Papua di Jayapura. Mobil yang digunakan juga saya tidak memperhatikan dengan baik, karena saya sudah gugup dan takut.

 

Pukul 10.15 AM

Saya mendapat telpon dari Wamena bahwa ada salah satu dari keluarga saya yang dapat tembak. Setelah mendapat telepon itu, saya pergi ke sentani untuk memastikan kebenaran berita ini, ternyata korban dimaksud adalah korban (MT).

 

  1. 4. Kronologis Versi  Saksi D

Rk Pasca Tertembaknya  Korban  (MT)

Jam 9.12 AM

 

Paska tertembaknya Korban (MT). Setelah Korban (MT) di bawah naik ke Mobil Avanza hitam Mobil ini  dan dua  mobil lainnya langsung lari dari lokasi kejadian menuju Perumnas II, I sampai ke arah Abe membawah korban (MT).

 

Saya  melihat 3 mobil lari dari TKP ( 2 Avanza) 1 Jeep yang membawah MT di depan dengan 1 Avanza,  dua mobil lainya mengawal Mobil yang membawah korban. Mobil yang satu ke arah expo, dua lainya ke arah Abe, saya mengikuti yang ke Abe. Saya mengikuti mereka dari belakang. Saya melihat 1 Mobil Avanza parkir  dekat warnet antara Uncen Lama dan Dandim Perwakilan Wamena. Saya parkir sedikit ke depan dekat jalan masuk Hotel 77 kira-kira 7 meter dari mobil DS 447 AJ Jenis Mobil TAP. Warna Hitam yang mereka parkir. Di dalam mobil dari kaca spion saya, saya melihat sopirnya orang asli Papua.

 

Dan ada seorang lagi yang memegang senjata laraz panjang. Mobil ini kemudian kembali membelok ke arah Uncen lama menuju Waena. Dua mobil lainnya yang saya kira membawah Korban (MT) langsung membawah korban ke arah kotaraja. Saya mengikuti satu mobil tersebut sampai ke Rumah Sakit POLRI Bayangkara di Kotaraja.

 

Setelah itu saya pulang, saya kemudian mendengar cerita dari keluarga dan sms yang beredar bahwa Mako Tabuni tertembak. Berarti saya menduga bahwa mobil yang tadi itu “memang membawah Mako Tabuni” yang ditembak oleh Polisi (belakangan saya dengar polisi densus 88 anti terror yang mengahabisi nyawa korban). (Sumber: Cepos 15 Juni 2012 dan Tabloidjubi.com (updated 15 Juni 2012).

 

  1. 5. Kronologi Versi saksi E 

Pukul 09:21 WIT, tiga mobil jenis kijang, Avansa dan mobil Jip parkir di depan Gereja Advent Hari Ketujuh di jalan masuk Kampus UNCEN Baru Perumnas III Waena.

Ada Sembilan (9) orang keluar dari mobil sambil memegang senjata lalu menembak seorang warga sipil yaitu korban (MT).  Setelah ia ditembak, lalu dimasukan dalam mobil lalu korban dibuang ke jalan.  Korban berlumuran darah dan tubuhnya terputar.  Tidak lama kemudian korban diangkat lalu dimasukan dalam mobil dan dibawa pergi.   Korban (MT) kena tembak di kaki  kiri dan kaki kanan lalu di Dada.

Diketahui bahwa, korban (MT) (30) adalah salah satu pengurus di Organisasi yang disebut KNPB (Komite Nasional Papua Barat), sebagai Wakil Ketua 1. Diduga korban ditembak oleh  Sembilan (9) anggota Detazemen 88. saat tiga mobil yang ditumpangi oleh Sembilan orang bersenjata itu pergi, masa lalu membakar ruko, motor dan mobil.

Ini akibat kemarahan masa yang melihat korban ditembak, ungkap salah satu saksi mata.

Pukul 10:42 WPB mobil Avansa DS 1902 miliknya saksi itu yang ikut dibakar oleh masa. Ada warga asli papua yang ikut bantu mengamankan masa sehingga tidak semua pertokoan dibakar.

Setelah satu (1) jam kemudian baru ada polisi yang datang ke TKP (tempat kejadian perkara). Saya sangat kecewa dengan sikap polisi yang terkesan lambat mengamankan keadaan seperti ini, tutur saksi.

Beberapa ruko yang dibakar yaitu, Toko Sinar Sahabat, toko Rata Mart, Agung Celuler, CV Artha Pangestu, Toko Soar Jaya Shop, Warior Playtation 2 dan 3 ada delapan (8) jendela kaca pecah dan dibakar, 26 kendaraan roda dua dibakar, satu (1) mobil kijang dengan nomor DS 8166 GL, dan 3 mobil lainnya dibakar massa. Empat warga non Papua yang menjadi korban amuk massa antara lain:

  1. Edi karafa (39) staf dosen FKM Uncen (luka bacok pada kepala belakang, luka tusuk  pada bagian kanan, luka panah pada kaki kanan)
  2. Indra Irinto (18) mengalami luka lengan kanan patah,luka robek leher kanan, dan dagu serta tangan kiri.
  3. Zafar Marzuki (27) dan Abdul Azis (dua korbannya belum di ketahui luka-lukanya)

Hingga laporan ini dibuat, gabungan keamanan dari TNI AD dan Kepolisian Polda Papua, satuan Brimob Polda Papua, Kepolisian dari Mapolres Kota Jayapura dan Mapolsek Abepura masih lakukan pengejaran dan penyisiran di wilayah perumnas III hingga ke perbukitan Buper dan areal Kampus UNCEN, mencari para pelaku yang melakukan pembakaran pertokoan di pertigaan perumnas III Waena. Tiga (3) mobil Baracuda milik Mapolda Papua siaga di pinggiran pertokoan perumnas III Waena, 5 mobil tertulis Samapta Mapolres Kota Jayapura membawa anggota polisi tiba di perumanas III, dan 3 mobil milik TNI AD tertulis Yonif 751 membawa anggota TNI AD ke lokasi kejadian, guna lakukan pengamanan dan pengejaran terhadap pelaku pembakaran pertokoan.

  1. 6. Kronologi Versi Saksi F

Pagi itu  (14/06/12) sekitar jam 07.30 korban (MT) pergi ke perumnas III daerah somel.  Dari daerah somel, ia terus ke tempat ojek di lingkaran perumnas III Waena. Disitu dia berbaur dengan anak-anak mahasiswa. Sementara korban (MT) makan pinang, saya juga pergi untuk beli minyak. Dia korban (MT) makan pinang di ade perempuan yang ada jualan disitu. sementara di situ ada dua mobil avansa lewat. Korban (MT) bilang sama kita kenapa mobil itu bolak-balik kesini dari kemarin. Karena adanya mobil itu, saya mau lihat begini? Dia (MT) bilang kaka jangan lihat ke situ, saya langsung bilang kita koma disini. Kamu yang mau kuliah pergi, saya mau beli minyak,  jadi saya mau balik, saya bilang kamu semua bubar.

Menurut Nona, dia (MT) sudah kena tembakan di perut, lalu lari. Mobil Pertama tembak lalu pergi ,mobil kedua yang angkat jenaza, dalam mobil ada anak papua dua orang. Lalu yang bakar-bakar itu semua dari mahasiswa dan masyarakat yang marah karena penembakan korban (MT) oleh Polisi.

 

  1. IV. SITUASI SESUDAH PERISTIWA

PASCA PERISTIWA PENEMBAKAN

Tanggal 14 Juni 2012, sekitar

 

5.1. Kronologis Versi A: Kericuhan di Perumnas 3 Waena Pasca Pembunuhan Kilat Koban MT. Nama saya AW (26), saya tidak lagi kuliah, baru wisudah pada tanggal 24 .........? kemarin saat penembakan korban (MT), pagi-pagi sekitar jam 8 atau 9 saya tidak lihat jam dengan baik hari itu tapi yang jelas bukan jam 10. Sekitar jam itu, saya dari rumah menuju perumnas III karena saya dengan korban (MT)  rencana untuk mau ketemu di korban (MT) punya rumah sehingga saya naik dengan teman saya. Pake motor teman saya, dia antar saya begitu kita naik ke perumnas III di mana tempat pembuatan batako kami melihat bahwa  kendaraan dari perumnas III semuanya memutar dari pertengahan jalan dan perjalanan panik mereka pulang atau kembali ke Perumnas II. Saya denga teman bingung dan kita menepi, lalu kita tanya kenapa semua lari berhamburan, mereka diam akhirnya kita menepi di somel.

 

Di somel kita tanya masyarakat tetapi mereka panik dan lari menyeberang kali Kamp Wolker ke Kampung Waena. Kami tanya seseorang yang sedang pulang, dan mereka menjawab singkat “ada penembakan, kami pergi ke perumnas III, sunyi tidak ada siapa-siapa. Ada satu mama yang jual pinang dan dia datang bergabung dengan kita, di situ situasi sudah sunyi tidak ada siapa-siapa karena masyarakat sudah lari. Dan ketika kami di situ saya dengan teman-teman melihat satu mobil avansa silver kacanya sedikit gelap tapi ada transparan kita bisa lihat , di dalam kita melihat satu sopir yang menggunakan topi tudung hitam, dia keluar dan pergi ke arah perumnas II. Setelah avanza silfer keluar, dan satu mobil (daihatsu) besar,  kacanya riben dan mobilnya panjang sekali. Ketika mobil daihastsu jalan disusul satu lagi mobil Inova keluar. (belakangan kami ketahui bahwa tiga mobil itu sebagai pelaku penembakannya). Tapi kita tidak tau itu pelaku penembakan korban (MT).

 

Begitu mobil Inova keluar, saya denga teman star menuju perunas III putaran dengan motor. Kita dari putaran Perumnas III menuju ke gorong-gorong depan gereja Advent, kita lihat darah yang jatuh di aspal yang bergumpal disitu, disitu kita tidak temukan banyak orang, kita temukan lebih dari lima orang disitu, kita tanya ini darah siapa??? Mereka bilang ini daranya korban (MT). Bah ini orang yang kita komit untuk mau ketemu kita lihat dia punya darah.

Infromasi cepat tersebar,  dalam beberapa menit kemudian  masa dari Rakyat Papua bersatu dan melakukan tindakan pembakaran mobil, kendaraan motor, dan rumah-tokoh (ruko) sepanjang lokasi lingkaran perumnas III.

 

Setelah kejadian itu, aparat Brimob dari Polda Papua datang ke lokasi, mereka datang lewat jalan baru masuk dan tiba di lingkaran perumnas III. Mereka melakukan tembakan tiga kali. Begitu tembakan tiga kali masa rakyat papua yang yang sedang melakukan pembakaran-pembakaran mereka membubarkan diri dan lari dari sana. Brimob kemudian melakukan tembakan berkali-laki, situasi menjadi tengang, masa melarikan diri. Masyarakat sebagai memilih mengungsi, demikian juga dengan mahasiswa yang tinggal di asrama maupun kos di daerah perumnas III memilih mengungsi.

 

Beberapa teman yang ditangkap, mereka dikumpulkan di asrama rusunawa, mereka diinterogasi pintu asrama Rusunawa itu ditendang, dihancurkan, leptop-leptop mereka disita, atribut-atribut KNPBtermasuk  beberapa Bendera (KNPB) dan panah  disita polisi.

 

5.2. Kronologis Versi B: Kericuhan di Perumnas 3 Waena Pasca Pembunuhan Kilat Koban MT. Saya ditelelpon oleh korban (MT) pada malam hari sekitar jam 11.00Pm. Dia minta malam itu saya menemuinya tetapi saya bilang besok pagi (maksudnya 14 Juli 2012). Lalu korban (MT) pesan besok pagi naik ke Asrama Rusunawa saya tunggu di sana. Saya naik ternyata korban (MT) sudah turun ke perumnas III di pangkalan Oyek. Saat saya lewat saya ketemu dia punya darah, belakangan sayang ketahui dia ditembak polisi.

 

Lalu saya bertanya kenapa dia haus makan pinang? Semacam makan apa begitu, pagi sekali dia keluar untuk makan pinang itu ada apa? Dan siapa yang atur skenario itu??? Dan kenapa eksekutor-eksekutor Indonesia itu tau kalau korban (MT) ada makan pinang di situ???? Cepat sekali mereka merapat. Masa mau makan pinang kok pagi buta langsung ingat-ingat makan pinang. Mungkin tidak makan pinang satu hari bisa mati.

 

Saya tidak berjumpa dengan korban (MT), saya hanya ketemu Korban (MT) punya darah saya,,, saya tanya ini daranya siapa, ada dua teman disitu (tidak kenal mereka) semua mereka mencekam diam dan takut, bubar. Saya tanya kawan ini darah siapa??? Dua teman bilang ini daranya korban (MT). Baru korban (MT)??? Ah mobil yang tadi itu sudah bawah dia (MT).

 

Wa ado akhirnya tercipta situasi karena masa rakyat papua tidak senang. Dan seorang yang mereka harapkan menjadi seorang martir begitu jadi di tembak  dengan cara yang tidak manusiawi. Jatunya di depan Gereja adven situ ada gumpalan yang kita ketemukan disitu.

 

 

5.4.Kronologis Versi C: Kericuhan di Perumnas 3 Waena Pasca Pembunuhan Kilat Koban  MT. Informasi awal yang kami terima dari beberapa saksi (warga) yang berada disekitar lokasi kejadian mengantakan bahwa awal mula kericuhan ini terjadi karena adanya salah satu warga papua yang ditembak di sekitar Perumnas 3 Waena, tepatnya depan gereja Masehi Advent (dekat pangkalan ojek perumnas 3 waena). Dari penuturan saksi (warga), saat itu korban (Mako Tabuni) berjalan keluar dari arah jalan yang menuju Kampus UNCEN Waena & asrama mahasiswa UNCEN. Para saksi melihat korban berjalan seorang diri dan sudah dibuntuti dari belakang oleh 3 buah kendaraan roda 4, tidak diketahui secara pasti mobil apa saja dan berapa no polisinya, tetapi dari penuturan warga, mereka ingat salah satunya mobil jenis TAFT warna hitam dengan nomor polisi DS 447 AJ dengan kondisi sudah agak usang. Kemudian mobil-mobil tersebut berhenti dan mencegat korban (Mako), kemudian mereka yang turun dari mobil tersebut menggunakan senjata laras panjang dan senjata laras pendek, kemudian menembak mako di tempat, pada saat itu mako sempat terjatuh setelah ditembak (sambil kejang-kejang) kemudian diangkat oleh pelaku kedalam mobil dan dibawa menuju arah Abepura. Saat ditanya soal siapa pelaku penembakan, saksi mengatakan pelaku menggunakan pakaian preman, dicurigai warga sebagai intelijen karena membawa senjata api.

 

Setelah mobil-mobil tersebut meninggalkan lokasi kejadian bersama korban (mako), masyarakat yang berada disekitar kemudian marah (menurut saksi, pengrusakan dilakukan oleh masyarakat pegunungan dengan suara khas wa…wa…wa….) mulai melakukan pengrusakan dan pembakaran terhadap beberapa ruko, mobil dan motor (gambar terlampir). Salah satu Warga kemudian mencoba menghubungi pihak berwajib tetapi tidak langsung direspon seketika. Saksi juga menjelaskan bahwa saat pengrusakan berlangsung, beberapa mama-mama papua yang berjualan dan berada disekitar lokasi kemudian mencoba menenangkan massa yang belum diketahui dari organisasi atau kelompok mana. Akhirnya pengrusakan dan pembakaran tersebut tidak sampai meluas lebih jauh. Hanya disekitar lokasi kejadian. Setelah massa berhenti melakukan aksinya, masyarakat sekitar kemudian memadamkan api dengan usaha dan peralatan seadanya tanpa ada bantuan dari pemadam kebakaran maupun polisi. Selang 1 jam lebih setelah kejadian baru aparat dari kepolisian, brimob dan TNI datang ke lokasi kejadian untuk mengamankan.

 

Jumlah Kendaraan bermotor yang dibakar 3 Mobil dan 15 motor.

Tanggal 15 Juni 2012

Jumat, 15 Juli 2012 sekitar pukul 10.00. Jenazah Alm. Mako Tabuni di serahkan oleh Polisi kepada keluarga di rumah sakit Bhayangkara di Kota Raja. Alm. MT dibawah keluarga dari RS Bayangkara Kotaraja ke Asrama Pyramid di Jalan Pos 7 Sentani. Dikawal oleh aparat keamanan TNI/Polri bersenjata lengkap.

Penghormatan Terakhir Pdt. Ndumma Socratez Sofyan Yoman

Pak Socratez, pada 15 Juni 2012, jam 11.00 menjemput anak di sekolah di wilayah Abepura. Pak Yoman menelepon kepada  Gerson Wenda untuk memastikan apakah jenazahnya sudah dibawa sampai di mana? Pada waktu jenazah mau di bawa memang terlihat pengamanan yang dilakukan oleh aparat keamanan di wilayah Abepura dengan ketat.  Pak Yoman melewati mereka dan mendapat jawaban dari Gerson Wenda bahwa jenazah baru dibawa keluar dari Rumah Sakit Bhayangkara dan ada  dalam perjalanan di Kotaraja. Pak Socratez dengan anaknya Arnold Ap Nelson Mandela Yoman menunggu di depan Jalan masuk Kampus Politeknik Kesehatan (Poltekes) Padang Bulan, Abepura.  Raung-raung mobil dan motor  yang mengantar pahlawan dan pejuang ini mulai muncul di depan kantor Korem Jayapura.

“Socratez turun dari mobil dan dalam keadaan sikap tegap mengangkat tangan dan memberikan penghormatan kepada jenazah yang lewat. Sementara anaknya Arnold  Ap Nelson Mandela Yoman menyaksikan dari jendela mobil yang sudah diturunkan. Setelah semua pengantar lewat, Socratez naik mobil dan tutup kaca jendela dan dengan anaknya Arnold menuju pulang ke rumah di Ita Wakhu. Anaknya Arnold yang berusia  10 (sepeluh tahun)  bertanya kepada ayahnya: “ Tadi bapak hormat siapa itu? Dan itu siapa yang mati?”  Jawabnya:  Arnold, tadi bapak turun dan memberikan hormat kepada seorang pahlawan besar rakyat dan bangsa Papua. Polisi Indonesia membunuh dia. Nama orang besar dan pahlawan itu Musa Mako Tabuni.”

Situasi Keamanan di Jalan Raya Abepura-Sentani

Aparat keamanan Indonesia dari TNI dan POLRI menciptakan suasana Jayapura pada 15 Juni 2012 benar-benar seperti suasana perang yang sangat menakutkan. Aktivitas ekonomi Jayapura lumpuh total. Tidak ada manusia yang berkeliaran.  Aparat keamanan TNI dan POLRI menduduki dan menguasai daerah-daerah seperti:  Lingkaran Abepura, Perumas 3 Waena tempat penembakan, Expo Waena,   di depan Makam Theodorus Hiyo Eluay, jalan Pos 7 Sentani lengkap dengan senjata, tank-tank.

Socratez menelepon Benny Giay dan diberikan kesempatan

Sebagai sesama pemimpin umat, gembala dan imam, Socratez menelepon dam memberitahukan bahwa jenazah Mako Musa Tabuni sedang di bawa dalam perjalanan. Socratez menyampaikan bahwa: “saya sedang menuju ke Pos 7 untuk mengatar jenazah dan menyampaikan kepada rakyat Papua supaya jangan membuat kekacauan tapi dengan hormat makamkan pahlawan bangsa rakyat dan bangsa Papua Barat, Mako Tabuni dalam keadaan penuh damai dan terhormat.”  Pendeta Benny Giay dan Socratez Sofyan Yoman diberikan kuasa dan kepercayaan untuk menyampaikan pesan dan nasihat kepada seluruh rakyat yang melayat. Socratez menyampaikan: “ Musa Mako Tabuni adalah pahlawan seperti Musa di Kitab Perjanjian Lama yang membebaskan bangsa Israel yang diperbudak di Tanah Mesir oleh raja Firaun dan menuju ke Tanah Perjanjian Tanah Kanaan. Sekarang kita menyaksikan pahlawan Musa di era sekarang yang telah dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia. Mako Tabuni sudah dibunuh secara fisik tapi semangat dan rohnya bersama-sama dengan rakyat dan bangsa Papua Barat untuk berjuang demi mencapai cita-cita kemerdekaan.

Sementara Pendeta Benny Giay menyatakan: “ kita sekarang harus bersatu dan bangkit melawan kejahatan Negara yang terus menerus membunuh umat Tuhan di Tanah Papua. Kita, rakyat dan bangsa Papua Barat tidak bisa mengharapkan bantuan dan pertolongan dari bangsa penjajah dan pembunuh ini. Kita harus menemukan diri kita, sejarah kita, budaya kita, cara hidup kita untuk membangun dan memajukan rakyat kita. Pembunuhan Musa ini merupakan yang terakhir. Sejak tahun 1961, rakyat Papua dibunuh terus-menerus. Jadi, kita harus bersatu dan melawan ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan ini. Gereja dan rakyat harus bersatu dan Gereja sekarang harus bersama rakyat. ”

Perdebatan lewat Telepon Tentang Tempat Pemakaman

Pendeta Benny Giay, Septer Menufandu, Gustaf Kawer,  Socratez S.Yoman, Mathius Murip, Sem Rumbrar, Dominggus Pigay, Pendeta Erson Wenda, Pendeta Markus Iyai dan Saul Bomay Yikwa (SBY) dan beberapa anggota keluarga dan anggota KNPB mengadakan rapat untuk persiapan pemakaman. Agenda yang dibahas adalah tempat pemakaman, pengkotbah, sambutan-sambutan dan waktu. Yang menjadi persoalan serius adalah tempat pemakaman. Ada yang mengusulkan Mako Tabuni dikuburkan bersama-sama di pemakaman Theys Hiyo Eluay.   Socratez dipercayakan untuk menghubungi Wakapolda Papua, Paulus Waterpauw tentang  hasil kesepakatan bahwa Musa Tabuni dikuburkan di pemakaman Theys.  Paulus Waterpauw menjawab: “ Pak Kapolda tidak setuju Mako dikuburkan di pemakaman Theys.”  Socratez bertanya. Mengapa alasannya? “ di situ bukan kuburan umum.”  Socratez menjawab: “ Biar kalian aparat keamanan Indonesia menjaga tanah dan kuburan Theys Hiyo Eluay di situ saja. Kami akan menguburkan Musa di tempat umum.”

Perlakuan diskriminatif dan rasial yang kejam dari  aparat keamanan

Memang perilaku aparat keamanan Indonesia sangat brutal dan biadap. Setelah aparat keamanan Indonesia membunuh Mako Tabuni, mereka mengadakan operasi gabungan TNI dan POLRI. Setiap mobil yang lewat dihentikan dan  mengeluarkan orang-orang Papua bagian gunung dipukul, ditendang dan disiksa seperti hewan. Sementara orang-orang pendatang (Indonesia) dan orang-orang Papua bagian Pantai dibiarkan pergi tanpa diganggu oleh aparat keamanan Indonesia.  Ini menunjukan aparat menciptakan perpecahan diantara orang Papua dan juga bagi masyarakat sipil dari luar Papua, kondisini seperti ini sengaja diciptakan oleh aparat.

Tanggal 16 Juni 2012

Bi bawah bendera SOS alm. Mako Tabuni dimakamkan di pekuburan umum Sere Sentani.

Sambutan-Sambutan dalam Acara Pemakaman

Yoram Tabuni  (Kakak kandung Musa)  mewakili keluarga.

“Waktu Musa hamil di dalam rahim ibunya, ayah kami pernah bermimpi bahwa kalau anak itu lahir menamainya Musa. Setelah lahir, orang tua kami memberikan namanya sesuai dengan petunjuk Tuhan melalui mimpi ayah kami.  Saya dan keluarga kami, memang merasa sangat sedih dan terpukul karena Musa dibunuh di siang hari oleh aparat keamanan Indonesia. Saya dan keluarga merasa sangat kehilangan anak, adik,kakak yang kami kasihi. Tapi, saya dan keluarga dihiburkan dan dikuatkan karena semua orang yang hadir di tempat ini menghargai dan mengakui Musa sebagai salah satu pejuang dan pahlawan keadilan bagi rakyat dan bangsa Papua Barat. Selamat jalan dan selamat beristirahat adikku. Biarlah TUHAN yang membalas kejahatan aparat keamanan Indonesia.”

Septer Menufandu mewakili teman-teman pekerja kemanusiaan

“Musa Mako Tabuni adalah pahlawan dan pejuang keadilan, perdamaian, hak asasi manusia dan kesamaan derajat. Musa adalah pahlawan milik rakyat dan bangsa Papua Barat. Musa bukan milik keluarga. Selamat jalan sang Pejuang dan Pahlawan bangsa.”

Gustaf Kawer, Penasihat dan Pembela,Musa Tabuni dan kawan-kawan

“Kami sebagai pembela dan penasihat hukummu pernah membela dan mengeluarkan engkau dari tahanan supaya engkau dengan bebas terus berjuang tentang nilai-nilai keadilan dan kesamaan derajat. Tapi, aparat keamanan Indonesia mencabut nyawamu. Selamat beristirahat. Dalam sejarah Rakyat dan bangsa Papua Barat akan mengingat engkau sebagai pahlawan bangsa.”

Abina Wasanggai Mewakili Perempuan Papua

Kami mama-mama Papua mengandung, melahirkan dan membesarkan Musa Tabuni dan kawan-kawanmu supaya hidup dan mewarisi Tanah leluhur Papua tapi bukan untuk dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia. Selamat beristirahat. Anak, engkau pahlawan bangsa Papua.Tuhan memberkatimu.

Saul Bomay Yikwa (SBY) Mewakili TPN/OPM

“Situasi Papua sudah darurat militer. Sekarang sudah saat ada intevensi pihak ketiga. Rakyat Papua sudah banyak yang mati di tangan aparat keamanan Indonesia. Kita harus bersatu untuk melawan kejahatan Negara di atas Tanah Papua.”

Victor Yeimo mewakili Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

“Sekalipun secara fisik Mako Tabuni dicabut nyawa dengan senjata, tap roh, spirit dan ideologinya tetap hidup. Rakyat dan bangsa Papua Barat tetap berjuang untuk merebut kemerdekaan Papua.”

 

Komentar Wakil Ketua I DPRP,Yunus Wonda

“Polisi harus bertanggungjawab kepada orang perorang yang berakhir atas tewasnya masyarakat sipil. Polisi juga harus bertanggungjawab atas kerugian yang timbul dari aksi di Waena kemarin. Yang harus diingat yang berhak mengambil nyawa orang hanya Tuhan. Saat ini banyak yang tidak aman dengan sikap ini. Saya mau katakan silahkan ambil seluruh kekayaan di Papua, silahkan pemerintah pusat ambil. Tapi tidak untuk satu nyawa orang Papua. Yang punya nyawa orang Papua adalah milik Tuhan. Silahkan harta benda, hasil bumi diambil tapi jangan sekali-kali nyawa” (Cenderawasih Pos, Sabtu, 16 Juni 2012, hal.4).

Tanggal 17 Juli 2012

Pembentukan Tim Investigasi (non litigsasi) dan Advokasi (litigasi) Kasus Pembunuhan Kilat terhadap Mako Tabuni oleh Polisi di 14 Juli 2012 di Perumnas III Waena, dengan agenda menggugat Polisi (pra peradilankan Polisi).

Senen, 18 Juli 2012 

Selain tim investigasi turun lapangan, loby dan konsolidasi para pihak, utamanya NGO’s dan pimpinan agama/gereja.

 

V.      PENUTUP

Laporan hasil investigasi ini kami buat dan sampaikan, kepada Koalisi LSM HAM Papua, semoga bermanfaat pada proses hukum, utamanya dalam rangka memberikan rasa keadilan terhadap korban dan keluarganya secure khusus dan public secure umum.

 

S.O.S SAVE OUR SOUL, Selamatkan Jiwa Kami, Rakyat dan Bangsa Papua.

 

Sekian dan terima kasih !

 

 

Jayapura, 11  Juli 2012

 

 

 

Tim Investigasi:

KOALISI MASYARAKAT SIPIL  UNTUK PENEGAKAN HUKUM DAN HAM  DI PAPUA

 

 

 

 

 

 

 

 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us