| “Hanya dengan 10 Program Utama, Klaim Papua Bisa Sejahtera” |
|
|
|
| Written by bintang papua |
| Tuesday, 03 July 2012 21:10 |
’Ide Gila’ Sang Mediator dan Juru Damai Era 70-80-an Untuk Penyelesaian Masalah Papua, Frans Leo (bagian-3)“Hanya dengan 10 Program Utama, Klaim Papua Bisa Sejahtera”ORANG MISKIN MENGANGKAT ORANG MISKIN, ORANG SUSAH MENOLONG ORANG SUSAH”, niscahya dalam kurun waktu 5 tahun, tidak ada orang Papua yang miskin lagi, demikian juga orang pendatang akan ikut terangkat menjadi maju dan sejahtra. Demikian konsep yang uangkap Frans Leo- Sang mediator dan juru damai OPM dengan aparat keamanan di era 70-80- an yang kini menjadi Ketua LSM Fajar Khatulistiwa. Apa saja program kongkritnya? Daud Sonny- Bintang Papua Diakui, jika kita berjuang sesuatu kebebasan dan kemerdekaan, hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik dan emosional serta semangat juang, kita selalu tidak akan terhindar dari kegagalan, bahaya dan korban jiwa yang sulit terhindarkan.Jika berjuang sesuatu dengan mengutamakan kedamaian dan keselamatan serta kemakmuran rakyat, Tuhan selalu beserta kita dan memberkatinya dimana dan kapan saja. Sudah setengah abad kita berjuang untuk sebuah angan-angan besar, akan tercapainya sebuah referendum yang nyata, tetapi belum dan tidak berhasil selama ini. Maka sudah saatnya kita berjuang untuk tercapainya cita-cita yang nyata, yaitu kesejahtraan dan kemakmuran seluruh rakyat Papua, yang dilandasi iman dan kasih sesama. “Mari bersama LSM Fajar Khatulistiwa, kita wujudkan tanah Papua tanah yang benar-benar diberkati Tuhan, dan surga bagi rakyat Papua yang penuh damai dan kasih sesama,”ajaknya sebagaimana diungkapkan kepada Bintang Papua.. Diapun mengaku pihaknya sudah menyiapkan sejumlah program untk mewujudkan cita-cita menuju Papua yang sejahtera. Hanya dengan 10 program utama itu dalam jangka 5 tahun masalah Papua selesai. SEPULUH PROGRAM LSM FAJAR KHATULISTIWA UNTUK TANAH PAPUA 1. Masalah Keamanan : - Tanpa absenya pasukan penugasan yang ditugaskan ke Papua telah mencapai puluhan batalyon jumlahnya, Ini artinya Papua semenjak kembali ke wilayah Republik Indonesia mulai tidak aman. - Di Ibu Provinsi, Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura hampir setiap saat ada demo minta dialog dan referendum, sudah menjadi makanan sehari-hari Rakyat Papua, ini akan menjadi bom waktu dan api dalam sekam. Sedangkan pihak keamanan hanya bisa menghadapai mereka dengan persuasive tanpa ada jalan dan solusi lain. - Sesungguhnya bukan berapa besar kekuatan militer yang disiagakan di Papua, berapa banyak pakar dan ahli strategi yang dilibatkan, berapa jumlah dana yang diglontorkan, seperti selama ini yang dilakukan kita di Papua. Dan hasilnya Demo menuntut dialog dan referendum, akhirnya korban jiwa terus berjatuhan. Tidak mustahil Papua akan menjadi ajang pembantaian sesame saudara dan sesame umat beragama. - Untuk bisa membuat rakyat Papua Hidup Nyaman dan menjadi tuan dalam rumahsendiri, konsep dan strategi yang akan dilakukan oleh LSM FAJAR KHATULISTIWA adalah” orang miskin mengangkat orang miskin dan orang susah menolong orang susah”, niscahya dalam kurun waktu 5 tahun rakyat Papua akan hidup nyaman damai dan tentram adanya. - Mengamankan Papua adalah tugas TNI/Polri, menyelamatkan Papua Adalah tugas LSM Fajar Khatulistiwa. 2. Masalah pengaruhnya dan lapangan kerja : - Dengan Program Terpadu Aurian, pengangguran dan pencari kerja yang ada di Papua 65% dapat tertampung, dan sekitar 1.000.000 tenaga kontrak dari luar Papua dapat diserap, di bidang usaha pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan darat dan industri pengolahan pangan. Dan setelah 5 tahun berjalan diharapkan bisa menyerap jutaan tenaga kontrak dari luar Papua. Ini artinya daerah Papua dapat ikut berpartisipasi bagi pencari kerja keluar negri. - Awalnya orang Papua selalu menjadi penonton dan buruh kerja orang pendatang, diharapkan dalam kurang waktu 5 tahun situasi dan kondisi akan berubah total, orang Papua akan menjadi pemilik usaha, sedangkan orang pendatang akan menjadi pengerja pada oarang Papua . Karena sesungguhnya orang Papua selalu dikategorikan orang miskin, padahal mereka adalah orang yang sangat kaya, punya tanah dan hutan yang luas, punya kali dan sungai yang besar, bahkan gunungpun milik orang Papua. Maka suatu saat mereka menjadi TUAN tanah sendiri adalah sangat pantas dan wajar adanya. 3. Masalah Kesejahtraan - Setalah program terpadu Aurina dair LSM Fajar Khatulistuwa berjalan 5 tahun, rakyat di kampung-kampung setiap tahun akan memperoleh pendapatan rata-rata 50 juta rupiah lebih tanpa harus kerja, dan jika mereka mau ikut kerja maka pendapatan akan lebih besar. Ini denga catatan bahwa mereka bukan manusia perau, tapi punya lahan/tanah rakyat. - Bagi Masyrakat Papua yang bermukim dikota-kota, tanpa punya lahan dan tanah akan menjadi penjual dan pedagang hasil produksi dari kampung-kampung, dengan penghasilan minimal 2 s/d 3 juta rupiah setiap bulan, bahkan bisa lebih dari itu tergantung ulyet dan cakap tidak mereka. 4. Masalah Kebutuhan Pangan - Kebutuhan pangan di Papua khususnya beras 90% harus didatangkan dari luar Papua, akan memanfaatkan sungai Digul di daerah Selatan, yang ada pasang surut air sungainya, untuk mencetak lahan sawah sebagai pusat sentral pangan khususnya beras. Dan diperkirakan luas lahan mencapai ribuan hektar, akan dimanfaatkan juga sebagai pusat perikanan darat. - Hasil pertanian seperti jagung, dedak dari padi, tapioka dari singkong dan lain-lain akan diolah menjadi makanan ternak, untuk menunjang kebutuhan program peternakan dan perikanan darat. Agar sebagian hasil pertanian bisa tertampung. - Orang tidak mungkin setiap hari konsumsi hasil pertanian, dan orang juga tidak bisa tanpa daging dan ikan setiap hari. Maka terpadu hasil pertanian diolah menjadi makanan ternak, dan usaha peternakan menghasilkan pupuk kandang untuk menunjang usaha pertanian. 5. Masalah pelanggaran Ham - Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Pangdam XVII Cendrewasih di media, bahwa untuk menyelesaikan masalah Papua dengan pendekatan teritorial, malalui pendekatan budaya dan agama. Bukan mengedepankan hukum terus, jangan melihat TNI dari masa lalu, TNI sekarang sudah tidak bisa melakukan rekayasa-rekayasa, TNI sudah lama menghilangkan cara-cara demikian karena sadar ghal itu salah. - Inilah sebagian pernyataan Bapak Pangdam XVII A.Y.NASUTION yang dimuat di media, ini bukan sajah sebuah penyataan sikap tetapi sekaligus sebuah ungkapan tekad baik dari hati kecil pangdam. Mungkin suatu saat TNI di Papua bukan lagi yang dituding sumber pelanggaran HAM, tetapi pahlawan yang berjasa membangun Papua, menjadi Papua damai dan makmur sejahtra adanya, hingga dari awal antipati menjadi simpati oleh rakyat Papua. Setiap TNI yang ditugaskan ke Papua ada rasa bangga dan bersyukur, bisa beramal dan berbak ti untuk sesama saudara di Papua, yang kita rebut kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Bersambung) |



Diakui, jika kita berjuang sesuatu kebebasan dan kemerdekaan, hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik dan emosional serta semangat juang, kita selalu tidak akan terhindar dari kegagalan, bahaya dan korban jiwa yang sulit terhindarkan.