| Kerangka Acuan Dialog Jakarta-Papua Harus Jelas |
|
|
|
| Written by Juby |
| Sunday, 24 June 2012 20:11 |
|
Jayapura (22/6)---Ucapan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam launching buku tulisan Pater Neles Tebay, "Angkat Pena Demi Dialog & Bicara Bagus Dukung Dialog," yang menyebutkan, jika rakyat Papua meminta dirinya menjadi fasilitator dialog Jakarta-Papua, maka ia tidak akan menolak. Pernyataan ini pun terus menuai beragam tanggapan. Tidak hanya dari kalangan aktivis dan masyarakat, namun juga pihak gereja buka suara akan hal ini.
KETUA SINODE GEREJA KINGMI di TANAH PAPUA, Pdt. BENNY GIAY. (JUBI/ARJUNA) “Karena kalau menggunakan dialog versi pemerintah, itu tidak akan pernah tuntas. Selain itu harus disepakti juga siapa yang akan memediasi dialog tersebut,” kata Pdt. Benny Giay, Jumat (22/06). Menurutnya, sebelum dialog digelar, terlebih dahulu harus jelas dan disepakati format dialog seperti apa. “Kami harus tahu dialog berangkat dari mana dulu, formatnya bagaimana. Semua harus melalui sebuah kesepakatan bersama,’’ ujarnya. Namun dikatakannya, rakyat Papua percaya terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X. Apalagi ia mendukung terwujudnya dialog Jakarta-Papua. “Kami percaya kepada Sultan Hamengkubuwono, dengan niatnya menjadi fasilitator dialog Papua-Jakarta,” tandas Benny Giay. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti menilai jika Sulta Hamengkubuwono serius dengan ucapannya itu. Salah satu bukti keseriusannya adalah bersedia menjadikan Yogyakarta sebagai tempat melangsungkan dialog. “Ini dibukti bahwa bukan hanya dirinya yang siap, tapi juga kota Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono sangat respek dengan terselenggaranya dialog Papua-Jakarta, guna mencari solusi penyelesaian masalah Papua agar menciptakan suasanya damai di Papua,” kata Poengky Indarti beberapa hari lalu. Hal nyaris senda juga diungkapkan Ketua Komsi A Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Ruben Magay. Menurutnya, pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X dilontarkan karena ia prihatin dan lebih melihat dari sisi kemanusian untuk menyelesaikan semua masalah Papua. “Jika Sultan bicara begitu, ia sudah prihatin dengan kondisi Papua. kalau saja semua orang bicara seperti itu masalah Papua bisa diselesaikan. Tetapi kalau menyelesaikan masalah Papua dengan kepentingan politik dan kekuasaan belaka itu tidak bisa,” kata Ruben Magay, Kamis (21/06). Ruben Magay juga yakin Hamengkubowono banyak mengerti tentang sejarah politik Papua sehingga ia berani bicara seperti itu. Apalagi Yogyakarta sama seperti Papua diberikan kekhususan. “Selain itu sejarah terbentuknya Negara Indonesia berasal dari Yogyakarta. Jika Yogya sudah bicara seperti itu artinya pusat dimulainya negara Indonesia sudah bersuara,” terang Ruben Magay, Kamis kemarin (21/06). |


