West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.1.67-log
Time : 06:45
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 20
Content : 959
Content View Hits : 1410536
Laporan Kronologi Penembakan Mako Tabuni Kamis, 14 Juni 2012 di Waena, Jayapura, Papua PDF Print E-mail
Written by MATIUS MURIB   
Thursday, 14 June 2012 22:14
Foto 1 Korban:
Mako Tabuni saat di rumah sakit Bhayangkara, 14/06/12
Kamis, 14 Juni 2012
Pkl 09.30 WPB,
Mako Tabuni ketua 1 KNBP ditembak mati di perumnas III Waena, Jayapura, sejumlah saksi mengatakan pelaku ciri2 badan kekar, rambut lurus, dan dipastikan oleh saksi aparat keamanan, korban sudah dibawah lari oleh pelaku ke rumah sakit Bhayangkara, Kota Raja.

Pukul 09.40-10.40 WPB,
akibatnya 2 org non Papua dibunuh, sejumlah ruko,  mobil, 1motor dibakar di putaran taxi perumnas III Waena,

Sejumlah aparat memakai mobil kijang dan bersenjata, mulai datangi warga di kompleks mereka dan menanyai bahwa kalian terlibat dalam aksi di perumnas III atau tidak, lalu warga diambil gambar dan foto lalu di bawah pergi dan terus dipantau aktivitas warga, terutama orang asli Papua di perumnas I, II dan III Waena dan sekitarnya.

Pukul 11.00 – 24.00 WPB,
Setiap kendaraan yang lewat di jalan raya, seperti di Kampung Harapan Sentani dan beberapa tempat di swiping, oleh aparat, dimintai untuk turunkan kaca mobil dan mengecek di dalamnya.

Situasi tengang se antero Jayapura, menyebabkan anak-anak sekolah yang sedang ujian, seperti SMP dan lainnya terpaksa hentikan ujian mereka dan dijemput paksa pulang oleh orang tua mereka di sekitar Waena dan Abepura. Toko, Mall dan perkantoran ditutup mulai pagi sampai sore-malam.

Wakapolda Papua, memantau langsung di lokasi kejadian dari pagi sampai malam di Waena, Abepura.

Kemungkinan korban bertambah, akses ke lokasi kejadian sulit karena di blockade aparat keamanan.

Selamat Jalan Adik Macko Tabuni
(dari Kaka Oktovianus Motte di Amerika Serikat)
Kemarin, (Rabu, 13 Juni 2012) daerah Waena, Jayapura secara umum aman. Pada sore harinya, adik lakukan jumpa pers di Prima Garden. Kepada Wartawan adik katakan bahwa penahanan Buctar Tabuni tidak profesional dan tidak prosedural. Adik juga meminta polisi untuk ungkap pelaku berbagai aksi penembakan di Jayapura selama dua minggu ini. Adik meminta kepada aparat untuk memberikan ruang demokrasi kepada rakyat Papua untuk sampaikan aspirasi politik. Adik tahu, bahwa hanya satu media, yakni Papuapos, yang memuat hasil jumpa pers itu keesokan harinya, Kamis 14 Juni 2012. Mungkin adik belum membaca, karena pada pagi itu juga, 14 Juni 2012 itu, algojo-algojo Kolonial Indonesia berseragam Polisi dan Tentara mendatangi dan membunuh di rumah.

Adik, Indonesia berpikir bahwa mampu menutup kejahatan yang mereka lakukan dengan menciptakan berita bohong di berbagai media baik yang terbit di Papua dan juga di Jakarta. Mereka katakan, adik ditembak ketika berusaha hendak di tahan. Padahal adik bukan seorang penakut. Kalau Bangsa Kolonial Indonesia hendak tangkap, mereka bisa lakukan ketika adik memberikan konperensi pers pada tanggal 13 Juni 2012. Koran-koran penjajah dan berbagai facebook dipenuhi dengan berita warga sipil (pendatang) yang menjadi korban di Waena dan sama sekali tidak memuat dua orang (Papua) lainnya yang menjadi korban peluruh aparat negara kolonial. Dan soal penembakkan adik sendiri, cuma dikatakan tertembak seakan sebuah kecelakaan atau ditembak karena melawan dan lari. Tembakan sniper ke kepala tentu saja memberikan jawaban atas cerita bual yang mereka coba ciptakan.

Mereka mampu bunuh adik, tapi tidak akan membunuh kebenaran yang adik perjuangkan. Kaka di Amerika dan semua pejuang murni lainnya akan meneruskan semua ini. Kita bukan saja akan membuka kejahatan sebuah negara yang dipimpin SB Yudhoyono, seorang pencuri uang rakyatnya. SBY akui sendiri di berbagai media bahwa Partainya pencuri urutan nomor 3, masih ada dua partai lainnya yang curi lebih banyak. Negeri ini akan bangkrut karena duitnya dicuri habis. Adik, SBY di pembunuh berdarah dingin yang merekayasa dan membiarkan semua ini terjadi di Papua. Katanya, karena jumlah korban tidak banyak. SB Yudhoyono, memang benar demikian kata Kompasiana ataupun International Crisis Group yang menerbitkan laporan dengan judul pertanyaan yang seringkali muncul mengenai Papua. Dengan kata lain, kalau pun orang papua dibunuh semua secara sporadis bukan dalam pembantaian ala Afrika atau timor Leste, jumlahnya yang kurang dari 2 juta penduduk memang tidak banyak dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Adik, banyak fakta sejarah mendukung kejahatan demikian yakni pemimpin bangsa ini memang punya tradisi itu yakni membunuh rakyatnya tidak berdosa. Ingat Soeharto adik. Ketika ia ambil alih kekuasaan dari Soekarno, ia memimpin operasi pembantain sekitar 2 juta rakyatnya hanya dengan labeli mereka sebagai Komunis sama dengan labeli kita sebagai separatis. Peristiwa serupa diulangi dalam era reformasi ketika sebagaian dari Penduduk timor Leste dibantai didepan PBB sesudah referendum.

Adik Macho, beberapa hari sebelum engkau di eksekusi, adik datangi DPR Papua. Adik minta agar mereka ikut angkat suara, putuskan SOS karena memang demikia adanya. Adik bicara fakta walau dimata teman-teman pekerja kemanusian hanya akan memberikan kriminal-kriminal berbaju aparat keamanan Indonesia itu leluasa bergerak menembaki orang di kota dan menangkapi para pejuang damai serta memporak porandakan mahasiswa di asrama-asrama sebagaimana mereka sedang lakukan sekarang ini. Adik lupa bahwa DPRP bukan lembaga wakil rakyat Papua tetapilemvaga wakil Partai Politik Indonesia. Partai itu bukan partai yang berbasis di negeri kita untuk membela hak rakyat tapi perwakilan kolonialisme yang menghidupi mereka.

Adik bangsa besar ini dipimpin oleh kumpulan pencuri dan pembunuh dan bangsa ini akan memetik buahnya. Mereka yang memberi duit sudah muak melihat perilaku pemimpin Indonesia dan sampai-sampai Jepang, negara yang selama ini diam pun angkat suara dalam sidang HAM di Genewa mengenai pembunuh yang dilindungi negara, impunity.

Doamu dari Surga akan berbuah Kemerdekaan bagi negeri kita.
Adik wae... waa waaa waaa. Koya uwi.....


Diupdate di Jayapura, 15 Juni 2012

Oleh



Matius Murib
Pembela Hak Asasi Manusia di tanah Papua
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us