West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux m
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.5.58-0+deb7u1-log
Time : 17:53
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 12242
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 3761902
PEMERINTAH INGGRIS AKUI PEMBUNGKAMAN KEBEBASAN BEREKSPRESI DI PAPUA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 31 July 2013 10:07

Jayapura, 27/07 (Jubi) – Baroness Warsi, Menteri Senior di Kementrian Luar Negeri Inggris mengakui kebebasan berekspresi di Papua sering dibungkam. Ia juga mengkhawatirkan hukuman berat yang sering diberikan kepada para aktivis Papua yang melakukan aksi demonstrasi dengan damai.

Baroness Warsi, Menteri Senior di Kementrian Luar Negeri Inggris (parliement.uk)

Pembatasan hak untuk menyuarakan pendapat politik (di Papua) memprihatinkan. Hukuman penjara yang berat diberikan pada orang-orang yang melakukan aksi demosntrasi damai. Saya juga sangat menghargai LSM dan staf mereka yang bekerja tanpa lelah untuk membela para tahanan ini. Kebebasan beragama dan berkeyakinan dan kebebasan berekspresi telah disampaikan dalam di Universal Periodic Review (UPR). Undangan ke pelapor khusus PBB tentang kebebasan berekspresi agar berkunjung ke Indonesia merupakan langkah positif, dan kami berharap bahwa kunjungan ini segera dilakukan.” kata Baroness Warsi, seperti dalam siaran pers Parlemen Inggris yang diterima Jubi, Jumat (26/07) malam.

Baroness Warsi mengakui pemerintah Inggris memiliki keprihatinan yang sama dengan anggota parlemen tinggi mereka. Menjawab pertanyaan anggota parlemen Tinggi Inggris yang dialamatkan kepada pemerintah Inggris, Warsi mengakui adanya pembatasan akses wartawan, LSM termasuk organisasi Palang Merah Internasional, ke Papua.
“Kami telah mengangkat isu ini kepada Pemerintah Indonesia di semua tingkatan. Ketika Lord Hannay, mengingatkan kita, tanpa membuka akses ke Papua, risiko misreporting atau insiden yang disalahpahami akan terus ada. Akan sangat sulit untuk memverifikasi sebuah insiden jika Papua tetap tertutup.” kata Menteri Senior ini.

Warsi mengatakan Pemerintah Inggris mengutuk semua pelanggaran hak asasi manusia, tidak peduli siapa korbannya. Menurutnya, pelanggaran di Papua telah dilakukan oleh aparat keamanan maupun oleh mereka yang mengaku akan berjuang untuk hak-hak rakyat Papua. Namun bagaimana memverifikasi secara rinci setiap insiden yang terjadi menmang sangat sulit karena keterpencilan daerah.

“Kita juga melihat pembunuhan mengerikan dari delapan personil militer Indonesia pada bulan Februari tahun ini. Dan Non-etnis Papua yang tinggal di dataran tinggi telah diserang dan dibunuh. Juga seorang turis Jerman ditembak pada Mei 2012.” tambah Warsi.

Pemerintah Inggris, lanjut Warsi, mengakui bahwa hak asasi manusia adalah hak fundamental yang berbasis pada nilai-nilai universal. Meski begitu, segudang pengaruh sosial, politik dan ekonomi sering berada di belakang pelanggaran hak asasi manusia, dan ini juga harus diatasi. Oleh karena itu, Inggris akan terus mendorong kemajuan yang berarti pada isu-isu pemerintahan, termasuk implementasi penuh dari undang-undang otonomi khusus bagi provinsi Papua dan Papua Barat.
“Kami juga mendukung fokus peningkatan pada pembangunan ekonomi dan sosial yang dilakukan pemerintah Indonesia. Yang mana pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengatasi kemiskinan yang meluas di wilayah tersebut, terutama di kalangan etnis Papua.” ujar Warsi. (Jubi/Victor Mambor)
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us