|
Created on Tuesday, 07 February 2012 Published Date
PAPUAN, Jakarta --- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Istana telah berhasil mengadu domba pimpinan Gereja-Gereja di tanah Papua melalui pertemuaan kedua antara 13 tokoh gereja dengan Presiden SBY pada tanggal 1 Februari 2012 lalu.
“Proposal dialog versi Cikeas I yang disampaikan oleh saya bersama beberapa pimpinan gereja telah ditandingi oleh Istana dengan menghadirkan beberapa pimpinan gereja lain, dengan agenda dialog yang istana mau.” Source
Demikian penegasan Pdt. Dr. Phil Erari, Ketua Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI), ketika menghubungi Suara Papua, tadi malam (06/02), menyikapi pertemuaan antara Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) yang dikordinir oleh Pdt. Lipus Biniluk dan Pater Neles Tebay beberapa waktu lalu di Jakarta .
Menurut Phil, Istana tidak konsisten dengan janji serta komitmen untuk mengundang pimpinan Gereja dalam bulan Februari tanggal 15, sebagai bagian dari trustbuilding untuk sebuah percakapan kelanjutan.
“Saat itu istana menyampaikan bahwa Presiden SBY akan bertemu lagi dengan pimpinan gereja bersama keempat tokoh gereja dari Papua yang telah mereka temui sebelumnya, namun belakangan kami tidak dilibatkan sama sekali, saya sudah tanya ke istana, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan,” keluh Phil.
Phil melanjutkan, dirinya besama PGI sebagai pemrakarsa pertemuan Cikeas 16 Desember menyatakan keprihatinan yang mendalam atas fakta yang tragis ini.
“Upaya terhormat yang memuat pesan profetis di hari natal kepada SBY dan Pemerintah, telah di hadang oleh sesama pimpinan Gereja, dengan mengatas namakan PGGP, yang secara substansil menghadang sebuah pesan Profetis Gereja Gereja Papua, secara diametral.
Pendekatan dialog yang digagas Dr, Benny Giay cs, oleh Pater Neles di"tabrak" dengan pendekatan dialog versi Istana yang patut dipertanyakan ujung ujungnya, karena melibatkan sembilan stake holders, sebagai dialog damai,” ungkap Phil.
Menurut Phil, dialog versi Cikeas I, telah menyatakan kepada Pemerintah Indonesia, bahwa nasionalisme Papua adalah hasil karya Indonesia, dan Pemerintah harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah besar ini.
“Saat itu saya bersama empat pimpinan gereja dari Papua menawarkan dialog dengan dimediasi pihak Internasional dibawah pengewasan PBB atau pihak yang netral.”
Sementara. lanjut Phil, dialog versi Istana mengindikasikan sebuah jalan damai melalui sembilan aktor yang tidak ada fokusnya. Dialog versi Cikeas I, memilih jalan demokratis penuh risiko, tetapi menyentuh sumber penyakit yang diderita rakyat Papua.
“Kalau kita lihat, dialog versi Istana yang didorong Cikeas II, cendrung memilih jalan kompromi dengan alasan perdamaian, namun akar penyakit rakyat Papua dibiarkan,” jelasnya.
Phil juga menegaskan, pertemuan Istana 1 Febuari dengan 13 tokoh Gereja merupakan sebuah rekayasa untuk mengalihkan isue Papua yang substansial, hanya demi kepentingan Jakarta untuk melaksanakan kiebijakannya di Papua.
Namun, terlepas dari fakta tragis yang sudah terjadi, dirinya berharap ada persatuan dan kekompakan diantara pimpinan gereja agar tidak terjadi konflik internal antara gereja sendiri, sebab gereja adalah benteng terkahir bagi perjuangan rakyat Papua.
“Saya juga sudah kordinasi dengan teman-teman pimpinan gereja yang betemu SBY pertama kali, bahwa harus lakukan dialog dengan PGGP, agar persoalan ini bisa diselesaikan secepatnya, dan perjuangan bisa dilanjutkan,” tegas Phil.
Phil juga mengaku, dirinya sedang terus melakukan kordinasi dengan Istana melaui Dr. TB Silalahi, salah satu penasehat utama presiden SBY, agar istana terus mau bedialog dengan rakyat Papua melalui pimpinan Gereja-Gereja Papua agar persoalan Papua dapat segera diselesaikan. |