West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.38
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 20:36
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 12490
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4141536
West Papua:SUARA HATI ANAK NEGERI PAPUA PDF Print E-mail
Written by Linus Hiel Hiluka   
Saturday, 09 July 2011 12:09
Pesan
sekaligus sebagai Refleksi bersama
Oleh: Linus Hiel Hiluka

Pengorbanan anak negeri Papua, tinggalkan anak, istri, saudara, rakyat dan negerinya. Keluar dari istana yang raksasa, pergi berjuang melibatkan diri dalam tugas revolusi demi mewujudkan impian rakyat Papua.

Sepanjang jalan di arena perjuangan bersama borgol di tangan, dikawal dengan laras dan hantaman senjata. Disertai cucuran air mata darah bercampur keringat, membasahi seluruh tubuh anak negeri sambil membawa aspirasi rakyat Papua. Berjalan maju sambil menangis, masuk di kotak sampah, di pagari tembok tinggi, dindingnya tebal berhias kawat duri, berlapis penjaga. Disinilah aku di hujani puluhan pukulan, ratusan hinaan, ribuan siksaan dan jutaan pertanyaan. Namun, saya tetap tenang dengan penuh sabar, jujur dan benar sambil menangis menjawab:

1.    Kemerdekaan rakyat Papua adalah hak Bangsa Papua, penjajahan di atas tanah Papua harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan.
2.    Dunia ini pernah menghina Tuhan Yesus pada waktu penangkapan sampai penguburan.
3.    Yesus pernah disiksa dunia pada waktu penangkapan sampai penyalipan, Yesus pernah di caci maki, ditarik seakan-akan seperti seekor binatang, sampai disalibkan hidup-hidup.
4.    Yesus dibawah kehadapan Pilatus dan Pilatus pernah bertanya, “Engkau raja orang Yahudi?” jawab Yesus “Engkau sendiri yang menyatakannya”

Demikian pula persoalan umat kedaulatan Allah di tanah Papua. Tuhan dan umat seluruh dunia tahu, bahwa pembunuhan, penindasan dan segala bentuk kekerasan yang terjadi di Papua, maka suara hati ini bahwa; rakyat Papua harus keluar dari segala penindasan dan penderitaan. Orang Papua harus bisa menikmati hak-haknya sebagai manusia. Bukan menyaksikan hak-haknya di langgar atau dikekang. Inikah yang artinya merdeka sebagai manusia?

Rakyat Papua tersungkur oleh peluru yang menembus anak-anak negeri Papua, serentak Papua menjadi perhatian Tuhan dan dunia. Air mata rakyat Papua mengalir seperti sungai, getir rasanya. Peluru selalu merampas nyawa orang Papua yang kerap kali selalu menjadi pertanyaanku. Mengapa kematian yang diakibatkan peluru ini belum juga berakhir? Mungkinkah di suatu  hari kelak tidak ada lagi anak-anak negeri yang mati karena peluru  yang kejam?

Kematian anak-anak negeri Papua menegaskan bahwa perjalanan kaum yang dikalakan yang dijiwai oleh darah perjalanan sejarah adalah perjalanan menuju menyatunya ideology menjadi kapitalisme liberal. Sementara sejarah Papua bergerak menuju pengakuan sebagai warga Negara yang bermartabat dengan warga Negara yang lain di dunia. Sebagai manusia yang merdeka, bukan hanya merdeka dari ketakutan akan peluru yang tiba-tiba meleset dan merampas hidup orang Papua, tetapi rakyat Papua bisa menentukan nasib sendiri.

Orang Papua bisa menikmati hak-haknya, bukan menyaksikan hak-haknya diambil. Inilah artinya merdeka sebagai manusia, menyaksikan dan merasakan sejarah para korban kita mencium bau anyir darah, tidak ada suka cita kemenangan, tetapi duka cita karena kematian anak-anak negeri Papua yang sangat murah itu. Tidak ada sorak-sorai, tari-tarian, yospan, pesak, wisi, ugaa, bahkan senyum pun tidak. Kepada ibu-ibu, mama-mama Papua selalu tunduk sedih dan air mata selalu  mengalir bagaikan mata air jatuh membasahi tanah Papua yang tercinta ini.

Anak-anak negeri Papua ditangkap, ditahan, dihukum, di penjarakan, diikat dengan borgol, ditarik seperti seekor binatang. Penjara pindah penjara, dari kota ke kota, sampai dengan buang di tempat pembuangan atau buang di tempat sampah masyarakat, air mata mama ini Papua tak pernah berhenti dan tiada akhirnya . Kapan air mata mama Papua  akan berakhir?

Dan mengapa orang Papua selalu berduka cita terus menerus, tidak ada suka cita? Mengapa orang Papua selalu sakit dan sedih, tak pernah tersenyum? Karena yang terjadi di negeri emas ini adalah teman jual teman, istri jual suami, bapak jual anak, marga jual marga, dan suku jual suku. Hal ini dilakukan hanya untuk mendapatkan sebatang rokok dan sepiring nasi. Maka air mata mama Papua tak pernah berakhir dan yang ada hanyalah menangis dan menderita.

Anak negeri Papua menderita di balik terali besi, mama duduk menangis di kebun sambil menonton orang kuras harta kekayaannya. Bukannya ini sejarah yang tidak pernah di catat, bahwa mereka belum menjadi pelaku aktif yang bagi sejarahnya sendiri? Yah, mereka mengingat kekalahan yang menyesalkan sejarah yang kita kanal hamper selalu berkisah tenang pahlawan, kemenangan, dan peristiwa yang monumental.

Sehingga diabaikan kematian anak-anak negari yang di rekam-pun hanya milik mereka yang agung, tetapi para budak dan serdadu-serdadu yang terlihat hampir tak pernah bahkan tidak pernah sama sekali di sebut namanya, hidup mereka-pun tidak berharga untuk  satu huruf-pun dalam kitab sejarah, agaknya untuk menimbang arah sejarah Papua kita tidak perlu mendogak para petinggi negeri, bias-bisa malah merasa ngeri, lihatlah peluru sedang mencari nyawa orang Papua, korban berjatuhan terus, darah anak-anak negari mengalir terus-menerus bagaikan sungai yang mengalir siang dan malam.

Para petinggi negeri tidak kasi tanda biru, selalu tanda merah dan hitam saja. Sejarah kita bangun sendiri, kekalahan dan kekalahan, kegetiran yang tadang silih berganti akan membuat dahaga kita akan kemanusian yang akan merdeka semakin besar, arus sejarah akan semakin deras dan mungkin tak lagi akan terbendung rasa kala tidak perlu mengemuka. Sebagai dendam tidak ada gunanya, dendam kecuali akan membuat kita semakin terburuk dan sejarah menjadi lebih mengerikan.

Dendam akan membuat tanah menjadi kerajaan kekerasan dalam arena kekerasan. Tak pernah seorang pun tampil sebagai pemenang, sejarah akan bergerak pada ciptaan, tata kehidupan yang berkeadilan, yang mengakui nilai-nilai kehidupan yang mungkin anak-anak bertumbuh,berkembang dan mendorong terciptanya manusia dapat menghayati kemanusian tanpa terancam atau mengancam manusia lain.

Dengan harapan tuhan akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang-orang yang tertindas dan yang tidak punya penolong. Lemah dan miskin menyelamatkan nyawa orang Papua dari penindasan dan kekerasan sebab darah manusia itu sangat mahal di mata tuhan.

Hatiku selalu sedih dan menangis melihat kekejaman militar di negeri yang saya cintai ini, aku melihat di gunung-gunung, lembah-lembah, tidak ada yang datang menolong, menghibur dan melihatku di dalam jeruji/penjara. Hanya terali besi selalu menjadi teman pasangan bicara, pikiran jadi istri siang malam, bangun tidur selalu bersamaku. Jam jadi komando, selalu memaksakan saya kerja, sayur kangkung, tahu, tempe rebus jadi orang tua yang selalu nasehat tentang hidup di penjara.

Bapaku, mamaku, keluargaku, rakyatku dan bangsaku di pembuangan dan pengasingan sangat-sangatlah tersiksa, kondisi dan situasi penjara  memaksakan saya untuk akhiri hidup di penjara, tetapi Tuhan tidak mengehendaki, mungkin Tuhan menghendaki aku membawa rakyatku keluar kealam yang bebas, namun demikian sebaliknya penjara adalah terindah bagi pemimpin politik terlindung.

Saya Linus Hiel Hiluka anak negeri Papua mengajak seluruh elemen perjuangan rakyat Papua merdeka, termasuk petinggi-petinggi, pejabat-pejabat di Papua untuk satukan barisan, bergandeng tangan, menyusun kekuatan, jangan bilang kamu gunung kamu pantai, kamu tinggi kamu renda, atau pilar ini pilar itu, wadah ini wadah itu kamu pintar kamu bodoh, kamu sekolah dan kamu tidak sekolah tapi mari kita untuk rakyat dan membawah rakyat Papua keluar dari penderitaan, penindasan menuju ke alam yang bebas, jujur, adil, makmur, dan sejaterah, di sanalah nama Tuhan dipuji dan dimuliakan.

PESAN
Tulisan ini ku tuangkan  dari Penjara Indonesia yang begitu sengsara penuh  Diskrimasi  sama sekali tiga memilik Hak untuk hidup .Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan..Hak mengembangkan diri,hak memperoleh keadilan,Hak atas kebebasan pribadi..Hak atas rasa aman..Hak atas kesejahteraan.  Saya dan kawan kimanus pesan kepada seluruh bangsa Papua Barat yang dimana saja berada   MERDEKA adalah  HAK SEGALA  BANGSA ,maka jangan takut dan gentar melawan penjajah
Salam dari saya  dan sahabat Kimanus Wenda TAPOL LP NABIRE
LP Nabire 2011

Last Updated on Saturday, 09 July 2011 12:15
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us