West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.38
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 10:40
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 13017
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4192432
Wabah Serang Pedalaman Papua, 108 Balita Meninggal PDF Print E-mail
Written by Telius Yikwa   
Friday, 21 July 2017 03:37

Image result for anak terserang wabah

                                      Ilustrasi                                  

Enarotali, Kompas - Sedikitnya 108 anak usia di bawah lima tahun meninggal di lima distrik di Kabupaten Paniai, Papua, dalam dua pekan terakhir akibat wabah yang belum diketahui dengan pasti jenisnya. Ratusan balita lainnya dalam kondisi sangat mengkhawatirkan dan kini ditangani oleh dua tim dokter dari Timika, Kabupaten Mimika.

Menurut keterangan yang diperoleh Kompas, anak-anak di wilayah pedalaman itu diduga kuat terserang pneumonia (radang paru). Namun sedikit aneh, penderita juga mengalami diare, selain muntah-muntah bercampur darah dan suhu badan tinggi.

 

Pendeta John Scutts, Kepala Gereja Kemah Injili, di pedalaman Paniai di Enarotali, Kamis (16/12), mengatakan, wabah tersebut sudah dua pekan menyerang anak-anak balita di lima distrik pedalaman Paniai, yaitu Agiziga, Hitadipa, Sugapa, Omeo, dan Wandae.

 

Sampai Kamis siang kemarin, ujar John Scutts, laporan dari pos komando (posko) yang dibentuk oleh gereja di wilayah itu menyebutkan, sudah 102 anak balita yang meninggal akibat penyakit tersebut, sebagian besar berasal dari Distrik Sugapa yang terpantau oleh petugas posko. "Korban dari empat distrik lainnya belum dapat didata," katanya.

 

Koordinator Health Care Center Dinas Kesehatan Provinsi Papua Paminto Widodo yang dihubungi Kamis malam menyatakan sudah mendapat laporan dari masyarakat mengenai wabah yang menyerang anak-anak balita di pedalaman Paniai itu. Bahkan, menurut laporan yang diterimanya, jumlah korban tewas sudah mencapai 108 orang, sementara ratusan lainnya dalam kondisi mengkhawatirkan.

 

Pendeta Scutts juga menyebutkan, ada ratusan bahkan mungkin ribuan anak balita diduga sudah terserang wabah ini. Apabila tidak ditangani segera, dikhawatirkan korban meninggal akan terus bertambah. Anak-anak yang terserang wabah itu tersebar di pelosok pedalaman Paniai yang sulit dijangkau petugas kesehatan.

Sementara itu, para orang tua dan masyarakat pedalaman tersebut tidak memiliki pengetahuan mengenai jenis penyakit yang menyerang daerah mereka. Satu-satunya upaya yang bisa mereka tempuh adalah melakukan pengobatan secara tradisional dengan menggunakan akar dan dedaunan.

 

Menurut Scutts, di lima distrik di pedalaman itu memang sudah ada puskesmas, tetapi tidak ada dokter dan tenaga perawat yang tinggal menetap. Dokter atau paramedis yang ditempatkan di puskesmas-puskesmas pedalaman umumnya lebih suka tinggal di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai. Mereka tidak bisa segera datang ke puskesmas karena sulitnya transportasi, apalagi permukiman masyarakat umumnya tersebar di lereng-lereng bukit dan di lembah dengan jarak berjauhan. Di wilayah pedalaman itu pada umumnya jarak antara satu rumah dan rumah lainnya 5-25 kilometer.

 

Medan sulit

Untuk mencapai kampung- kampung di dalam satu distrik saja dibutuhkan waktu dua sampai tiga hari melewati jalan setapak, gunung, bukit, lereng terjal, dan hutan lebat. Bahkan, antara Distrik Sugapa dan Distrik Omeo, misalnya, belum ada jalan darat dan harus menggunakan pesawat terbang. Jika berjalan kaki, dibutuhkan waktu tujuh hari karena harus melalui hutan, gunung, dan jurang.

 

Pihak gereja telah melaporkan kasus serangan wabah penyakit ini secara lisan dan tertulis kepada Pemerintah Kabupaten Paniai, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan yang dilakukan pemerintah kabupaten. Belum ada petugas pemerintah kabupaten atau petugas kesehatan pemerintah yang terjun langsung ke lapangan untuk menyelidiki peristiwa yang sedang dialami masyarakat di lima distrik tersebut.

 

Menurut Scutts, dua tim dokter-masing-masing tim terdiri dari empat dokter-dari Mimika yang datang ke Distrik Sugapa dipimpin dr Chondro dan dr Lana. Para dokter itu datang atas inisiatif pribadi dan dukungan sejumlah karyawan PT Freeport Indonesia.

 

"Selain itu, ikut juga tim penanggulangan bencana dari PT Freeport Indonesia dan utusan dari gereja di Mimika. Mereka telah mengobati sekitar 600 anak balita yang sakit. Masih ribuan anak yang harus mendapat pertolongan secepat mungkin," tutur Scutts.

 

Kabupaten Paniai meliputi wilayah seluas 18.104,63 kilometer persegi, terbagi dalam 11 kecamatan, dengan penduduk 97.726 jiwa (sensus penduduk tahun 2000). Wilayah ini berada di daerah dengan ketinggian hingga 2.000 meter di atas permukaan laut dengan topografi bergunung dan lembah.

Hingga kini tidak ada penerbangan langsung untuk Jayapura-Paniai. Untuk mencapai daerah itu, penerbangan swasta yang beroperasi di sana biasanya menempuh jalur Jayapura-Biak-Nabire-Paniai.

 

Di Paniai sendiri hubungan ke kecamatan-kecamatan masih sangat sulit. Bahkan, Kecamatan Sugapa, Homeyo, Agisiga, dan Biandoga belum bisa dicapai melalui jalan darat dari Enarotali. Di kabupaten ini ada 15 lapangan terbang, 11 di antaranya milik swasta. (KOR)

 

Untuk mencapai daerah itu, penerbangan swasta yang beroperasi di sana biasanya menempuh jalur Jayapura-Biak-Nabire-Paniai.

 

Source : file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/digital_blob_F16530_Wabah%20Serang%20Pedalaman%20Papua.htm

Last Updated on Friday, 21 July 2017 03:53
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us