West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.40
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 07:35
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 15432
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4307219
Mahasiswa Jayawijaya Tolak Pembangunan Mako Brimob di Wamena PDF Print E-mail
Written by Egulek   
Monday, 12 January 2015 21:23

Demi Pembangunan Mako Brimob dan Pemekaran, Perang Suku "Diijinkan"

         Anggota Brimob saat menghadiri apel nasional di Jakarta (Dok suarapapua.com)                                          

 

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com --- Rencana pembangunan Markas Komando Brigadir Mobil (Mako Brimob), di Kabupaten Jayawijaya, Papua, dengan mengunakan tanah Adat, mendapatkan penolakan tegas dari sejumlah tokoh intelektual, dan mahasiswa Jayawijaya di Kota Studi Jayapura.

 

Alius Lokobal, salah tokoh intelektual dari Jayawijaya, mengatakan, ia bersama masyarakat adat menolak karena akan mengambil tanah adat, termasuk menyingkirkan peran kepala suku.

 

"Dengan adanya konflik antara warga Kurima dengan masyarakat Wouma menjadikan alasan untuk membangun Mako Brimob, ini merupakan skenario, kami tegas tolak," kata Alius, saat memberikan keterangan pers, Senin (12/01/15) siang, di Abepura, Jayapura, Papua. dikabarkan suarapapua.com

 

 Menurut Alius, dengan adanya Mako Brimob, tentu akan ada lagi pemekeran institusi-institusi militer lainnya di Jayawijaya, karena itu masyarakat dengan tegas menolaknya.

 

 

Sementara itu, Benyamin Lagowan, mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, menambahkan, seharusnya aparat keamanan dan pemerintah daerah mengungkap aktor-aktor dan elit politik yang menciptakan konflik horizontal antar masyarakat.

 

"Dengan tegas kami tolak pembangunan Mako Brimob di Molama, Jayawijaya, karena tanah itu dijadikan tempat tinggal oleh tiga suku besar, termasuk tempat mencari hasil ekonomi," kata Lagowan.

 

Menurut Lagowan, pembangunan Mako Brimob merupakan kepentingan elit politik di Jayawijaya, yang jelas-jelas mau mengorbankan tanah adat, demi ambisinya.

 

"Mungkin kepentingan pemekaran yang kami lihat, sehingga kami dari tiga suku besar yang mendiami wilayah tersebut menolak pembangunan Mako Brimob, terutama kami mahasiswa," katanya.

 

Lanjut Lagowan, sejak awal ia bersama sejumlah tokoh intelektual asal Wamena sudah tahu rencana pembangunan Mako Brimob, dan sejak awal telah menolaknya, termasuk penolakan dari kalangan tua-tua adat.

 

"Ada orang tua yang terus menolak, dan orang itu sekitar dua bulan lalu telah meninggal, kemudian terjadi perang suku, setelah itu disampaikan rencana pembangunan Mako Brimob."

 

"Kami lihat ini skenario terselubung yang dimainkan oleh aparat keamanan bersama pemerintah daerah, kalau bilang mau cegah konflik, maka kami rasa itu tidak benar, dan kami jelas menolak pembangunan Mako Brimob," tegas Lagowan.

 

Sebelumnya, ditulis media ini, Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo, mengatakan, Mako Brimob direncakan untuk segera di bangun di Molama, dan telah menghimbau masyarakat untuk memberikan dukungan.( suarapapua.com/ WartaPapua Barat)
Last Updated on Monday, 12 January 2015 21:33
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us